Gelap Itu Tidak Terang


Bagai Terang dan gelap
Kebaikan dan keburukan
Petunjuk dan kesesatan
Tak perlu diperdebatkan

Manusia hanya perlu menyadari
Bahwa pilihan itu punya konsekuensi
Pilih gelap siap meraba-raba
Entah ular berbisa atau bahaya di depan mata
Tak terlihat, dipatuk dan akhirnya mati sia-sia

Terang itu bagaimana pun indah
Terang itu bagaimana pun fitrah
Cahaya itu pasti ada ilmunya
Gelap itu ada ketika cahaya tak ada
Gelap tak perlu dicari dan diusahakan
Menjauhlah dari cahaya kau temukan kegelapan

Manusia tahu itu semua
Tapi gelap lebih menggoda
Tapi gelap lebih sederhana
Dalam gelap manusia berani berulah
Dalam terang manusia malu-malu bertingkah
Takut ketahuan dan wajah pun memerah

Terima kasihku pada gelap dan terang
Karena mereka, baik dan buruk
Samarnya makna dosa jadi hilang

Jika manusia tahu ia tak mungkin tak tahu
Jika manusia paham ia tak mungkin tak paham
Kebodohan dan pengetahuan tak mungkin berjabat tangan
Mustahil keduanya menjadi pasangan

Hanya tinggal tersisa Kepentingan dan kesombongan
Dua tumbuhan yang akarnya nafsu bisikan setan
Karena keduanya, gelap bisa jadi terang
Terang bisa jadi gelap
Karena keduanya dosa jadi biasa
Baik jadi tercela

Kepentingan masih ada obatnya
Hanya perlu sadar dan bersabar
Bahwa di dunia derita ada ujungnya
Bisa mengemis kalau tak berpunya
Tapi nanti mengemis kepada siapa?
Tersiksa terhina tak ada habis-habisnya
Abadi dan kekal selamanya

Adapun penyakit sombong
Seperti gelas yang tak kosong
Penuh air malah dituangkan air
Airnya luber terbuang mengalir

Atau seperti gunung yang terlihat amat tinggi
Perlu pengorbanan untuk sekedar mau mendaki
Terutama melepas apa yang dianggap “harga diri”

Makna Hijrah Diri

Hijrah adalah sunnatullah dalam kehidupan para nabi dan Rasul. Beberapa nabi melakukan hijrah untuk mencari tempat yang lebih baik dan kondusif dalam melaksanakan perintah Allah. Begitu pula hijrahnya Rasul, maknanya bukan pelarian atau menghindari siksaan dan fitnah, kita sudah sama-sama tahu bahwa para nabi dan Rasul tidak gentar dengan hal-hal semacam itu. Hijrah Rasul adalah sebuah strategi yang Allah bimbing langsung untuk memulai awal baru sebuah peradaban. Dan bukan hal yang kebetulan kalau kemudian Nabi mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah, yang secara bahasa mempunyai akar kata yang sama dengan tamaddun (Peradaban), sebagaimana lazimnya orang-orang yang beradab tinggal di kota (Madinah). Perubahan ini mengisyaratkan bahwa daerah baru tersebut akan dijadikan sebagai pusat peradaban yang baru.

Jadi bisa dikatakan kalau hijrah merupakan perjalanan untuk mengubah sejarah umat manusia di dunia. Umar bin khattab, sebagai pencetus penanggalan hijriyyah ini, sengaja memilih peristiwa hijrah untuk dijadikan sebagai acuan dalam penanggalan islam. Sewaktu beliau bermusyawarah dengan para sahabat, ada empat opsi atau pilihan peristiwa yang bisa dijadikan acuan penanggalan kalender islam: tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika beliau wafat. Pilihan acuan penanggalan pada peristiwa hijrah mengisyaratkan bahwa lembaran baru islam tidak dibuka oleh keanggungan seorang tokoh, dengan memeringatkan kelahirannya atau tanggal wafatnya misalkan. Tapi lembaran baru didasarkan pada semangat perubahan, semangat kelahiran peradaban baru umat islam.

Ada banyak Makna dan pelajaran dari momentum hijriah ini yang bisa kita gali, diantaranya, semangat hijrah mengajarkan kepada kita untuk meninggalkan hal-hal yang membuat kita jauh dari Allah, menghamba kepada-Nya beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, usaha kita untuk memerdekakan diri dari semua bentuk penjajahan yang membahayakan status keislaman diri kita, keluarga kita dan anak-anak kita.

Rasul bersabda:

"Al Muhajir man hajara maa nahallahu 'anhu" (HR. BUKHARI)
- Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang -

Laa hijrata ba’dal fathi Sabda Rasul, tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan makkah, kenapa? Karena kondisinya sudah sudah kondusif untuk umat islam, Makkah yang dulu mencekam bagi umat, kemudian menjadi tempat yang aman bagi umat islam.  Saat ini kita tidak perlu hijrah dalam artian hijrah fisik, karena dikanan kiri kita umat islam, yang lebih kita perlukan saat ini adalah hijrah untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik.

Pelajaran kedua, pada prosesnya, perjalanan menuju perubahan tersebut pastilah ada ujian dan rintangan. Kadang ada beda antara idealisme dan realitas, karena itu butuh kemantapan jiwa dan keyakinan bukan sekedar keinginan. Pada saat peristiwa hijrah terjadi, ada segelintir kaum muslimin yang memilih untuk tetap tinggal di Mekkah, padahal mereka memiliki kesanggupan untuk berhijrah. Mereka merasa senang tinggal di Mekkah walaupun tidak punya kebebasan menjalankan perintah agama. Orang-orang ini Allah katakan sebagai orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Sewaktu perang badar terjadi, mereka dibawa ikut berperang oleh orang musyrikin menghadapi Rasulullah saw. Dalam peperangan ini sebagian mereka mati terbunuh. Di akherat nanti Malaikat menanyakan alasan mereka dan mereka hanya menjawab “Kami adalah orang-orang yang tidak berdaya, orang yang lemah” begitu kata mereka.

Dalam konteks kekinian, banyak orang yang punya seribu satu alasan ketika diajakan pada kebaikan "Belum siap lah, malu lah sama teman-teman, atau sulit meninggalkan kebiasaan, dan alasan-alasan lainnya". Kendati sebenarnya mereka punya kemampuan, mereka lebih senang memelihara kelemahan diri. Saya yakin kalau mereka ditanya antara keinginan masuk surga atau masuk neraka pasti jawabnya ingin masuk surga. Padahal salah satu tiket masuk surga itu "SABAR", dan sabar itu berat, mangkannya hadianya surga, kalau sabar itu gampang, seperti kata orang-orang, hadianya kipas angin atau mobil.

Sudah menjadi ketapan Allah bahwa surga diperuntukan untuk orang-orang yang mau berusaha menjadi baik, sebaliknya neraka diperuntukan bagi mereka yang lebih senang bersama keburukan. Rasul pernah bersabda "Surga itu dilingkupi hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dilingkupi oleh hal-hal menyenangkan".

Pelajaran ketiga, Saat Rasul sampai ke Madinah, Rasul memersaudarakan kaum muhajirin dan anshar atas nama persaudaraan islam, persaudaraan semacam ini tidak ada duplikasinya dalam sejarah peradaban manapun. Hal ini mengisyaratkan bahwa umat islam tidak akan menjadi baik kondisinya hanya dengan sekedar individu-individu shalih yang saling tercerai berai. Khalifah Ali pernah berkata "Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik". Jumlah kaum muslimin pada saat ini tentu lebih banyak dari pada zaman Rasul dan para sahabat, namun ternyata kaum muslimin pada saat itu mampu berjaya dan mengalahkan persia dan Romawi. Kuncinya adalah ikatan persaudaraan mereka sangat kuat.

Pelajaran Keempat, bangunan yang pertama kali Rasul dirikan di Madinah adalah masjid. Masjid adalah jantung peradaban umat islam pada saat itu, disinilah umat islam dibina, disini pula semua lapisan masyarakat dengan pangkat, status dan jabatan mereka yang berbeda-beda lebur. Mungkin hanya di masjid, seorang pemimpin bisa duduk bersama bawahannya, mungkin hanya di masjid seorang pengemis bisa bersandingan dengan pejabat. Keberadaan masjid benar-benar menjadi sumber kekuatan ikatan persaudaraan islam. Sekarang kondisi masjid amat memprihatinkan. Coba lihat shaf pertama dan kedua siapa yang ngisi? berapa umurnya? apa jabatannya? Sepuh, 60 sampai 70 tahunan, apa jabatannya, pensiunan direktur anu, pensiunan pejabat di perusahaan anu. Kemana mereka saat berjaya? Ini mirip seperti pepatah indonesia, habis manis sepah dibuang. Bersyukur lah Allah maha pemurah, mau menerima walaupun itu hanya sepahnya. Intinya adalah jangan berikan sepah-sepah usia kita untuk Allah. Selain itu fungsi lain dari masjid pada saat itu adalah tempat pengajaran, hal ini mengisyaratkan bahwa jika ingin maju butuh ilmu, bukan sekedar semangat dan militansi.

Pelajaran kelima, pada saat peristiwa hijrah terjadi, ada seseorang yang berhijrah bukan karena Allah, tapi karena seorang wanita yang bernama ummu Qais. Lantas Rasul bersabda tentang hal ini:

"Innamal 'amâlu binniyyat...", Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.

Dari berbagai sumber
Isi dapat dipertanggung jawabkan, jangan ragu untuk copy paste dan belajar.

UMAT TERBAIK (Nasehat untuk pengantin baru Akh Bisma dan Salma)

Nasehat untuk pengantin baru Akh Bisma dan Salma

Seringkali saya berfikir tentang bagaimana akhirnya nasib negeri ini. Seumpama bom waktu yang siap meledak kapan pun, barangkali itulah kata yang tepat untuk mewakilinya. Kita tidak tahu berapa lama lagi sampai terjadinya banyak kehancuran dimana-mana, huru-hara, dan peristiwa lain yang jiwa manusia ingin berpaling sejauh mungkin darinya. Semua alamat kemungkinan terjadinya hal-hal semacam ini hampir genap, mulai dari para pemimpin yang bodoh dan korup, sampai ke moral muda-mudi yang anjlok. Kita menyaksikan semuanya.

Kalau pun ada muda-mudi yang sukses dengan prestasi gemilangnya, kalau pun ada pejabat yang bersih dari korupsi dan banyak prestasinya, maka mereka tidak lebih dari sebuah emas diantara tonan rongsokan besi. Keberadaan mereka adalah senyum dan kegembiraan tersendiri, tapi kenyataan kalau mereka adalah pengecualian dari yang umum, juga adalah kesedihan tersendiri.

Saya sebagai seorang muslim, tentu akan melihat lebih dari sekedar prestasi, lebih dari sekedar kesuksesan materil seseorang. Seumpama mikroskop biasa dan mikroskop elektron, maka saya adalah yang kedua. Diantara para pejabat yang sukses, muda-mudi yang gilang gemilang prestasinya, pun tidak semua menjadi kebanggaan islam. Kalau hanya sekedar sukses memimpin, maka Firaun pun sukses, kalau hanya sekedar berprestasi, tidak sedikit kita catat dalam sejarah, muda-mudi yang sukses pada usia muda, dan pada saat yang sama, mereka juga punya andil dalam pertumpahan darah di alam semesta, mereka juga punya andil dalam merusak moral sebuah bangsa.

Kita tidak memiliki sebab-sebab yang cukup untuk menjadi negara yang sesukses Jepang, apalagi menjadi negara yang jauh lebih sukses dari jepang; negara yang pernah ada dan terjadi pada zaman Rasul, para sahabat dan masa kegemilangan islam. Tidak seperti jepang yang sukses materilnya, tapi gagal moral dan psikis masyarakatnya, negara yang pernah ada dalam sejarah islam, sukses luar dan dalamnya. Tidak tercatat dalam sejarah, bahwa masyarakat muslim saat itu banyak yang bunuh diri, sebagaimana tercatatnya muda-mudi jepang yang bunuh diri lantaran hal sepele, pun tidak tercatat dalam sejarah, pada masa kegemilangan islam, perzinahan yang merajalela. Inilah kesuksesan yang sebenarnya. Inilah makna kesuksesan dalam literatur islam. Sukses adalah kondisi ketika adanya keseimbangan, keselarasan atau keharmonisan pada semua komponen yang dibutuhkan agar sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Seumpama sebuah mobil dengan rancangannya yang rumit dan melibatkan banyak komponen. Jika satu saja bagian dari mobil rusak, apalagi bagian yang paling mendasar, maka dapat dipastikan, kinerja mobil akan berkurang (baca: tidak sukses).

Seperti itulah seharusnya cara pikir seluruh umat islam di dunia, jika mereka ingin mendapatkan kesuksesan yang sebenarnya, hendaklah setiap muslim berkaca dan tanyakan pada dirinya, apakah yang tersisa dari identitas keislaman pada dirinya hanya nama dan status agama pada ktp nya? Namanya islami; Yusuf, Muhammad, Isa, Hidayat, atau status agama pada KTPnya tertulis islam. Apakah hanya itu saja? Bagaimana dengan “komponen-komponen” yang lainnya? Tentu kita sangat yakin, mobil tidak dikatakan bagus hanya dengan sekedar kilauan warnanya yang terkesan mewah atau bodynya yang memukau, kita pun yakin balon bisa terbang bukan karena warnanya.

Pun demikian pula dengan saya dan kita semua, tidak akan menjadi seorang muslim yang benar keislamannya sebelum semua komponen keislaman pada diri kita bekerja sebagaimana mestinya. Mulai dari hal-hal mendasar, shalat misalkan, sampai hal-hal yang besar, memilih pemimpin misalkan. Karena islam adalah kepatuhan dan tunduk secara total, jika urusan ritual ibadah harus mau diatur Allah, maka urusan dunia pun demikian, karena ibadah dan kehidupan dalam islam adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan, malahan kehidupan sendiri adalah ibadah, maka setiap unit waktu kita ibadah, langkah kita ibadah, semuanya ibadah. Jadi ibadah bukan sambilan, tapi kehidupan adalah sambilan; cari rezeki adalah sambilan, intinya adalah ibadah. Sungguh menyedihkan jika kita kehilangan yang inti karena mengejar sambilan. Ini mesti saya katakan, karena tak jarang muslim yang mau diatur dalam masalah ibadah ritual, tapi tidak mau ikut aturan islam dalam masalah duniawi, akibatnya kalau ia pejabat korupsi, kalau berbisnis pakai riba dan seterusnya.

Karena hal-hal semacam inilah kita dikatakan sebagai umat terbaik, bukan hanya baik. Menjadi umat tersukses, bukan hanya sukses. Allah berfirman “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (baik), dan mencegah dari yang munkar (buruk), dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran: 10). Kita tidak menjadi terbaik hanya dengan sekedar ketaatan pribadi, mengerjakan shalat, zakat, dan ibadah ritual lainnya kemudian beres. Tidak. Karena ibadah semacam itu memang sudah semestinya dan menjadi kewajiban untuk dikerjakan. Kita menjadi terbaik karena mempunyai tanggung jawab pada umat manusia seluruhnya, mengarahkan mereka untuk sama baiknya dengan kita, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.

Sampai disini kita lihat, bahwa islam begitu komprehensif, kita shalat, maka yang lain pun diajak shalat, kita berbuat baik, maka yang lain pun diajak berbuat baik, urusan akherat sudah baik, maka tidak lupa urusan dunianya juga harus baik, jauhi riba, jauhi narkoba, jauhi zina, jauhi ghibah dan keburukan-keburukan lainnya. Lagi-lagi inilah makna sukses yang diusung oleh islam, dan dirangkum dalam doa sederhana yang paling sering Rasul panjatkan dalam kesehariannya; Rabbanâ âtinâ fid dunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah, wa qinâ ‘âdzâbannâr. Jika ada ruh dan jasad, maka orang sukses adalah mereka yang jasadnya sehat, ruhnya juga sehat. Jika ada jilbab dan akhlak, maka muslimah yang sukses adalah, yang berjilbab dan juga berakhlak baik.

Dibalik semua kemalangan dan keterpurukan umat yang mungkin sering saya keluhkan, ada hamdalah dan secercah harapan, bahwa umat terbaik itu akan kembali seperti sedia kala. Prinsipnya, semua hal besar, adalah kumpulan komponen-komponen kecil dan mungkin dianggap sepele, yang kemudian disusun sedemikian rupa, dengan ilmu, dengan amal, sehingga menjadi sesuatu yang luar biasa. Besi, skrup dan mesin-mesin tidak menjadi berguna sebelum dirakit sedemikian rupa menjadi mobil yang sempurna.

Menikah adalah langkah pertama untuk mewujudkan umat yang terbaik, sekarang mungkin masih berdua, nanti ada saatnya bertiga dan seterusnya. Lahirnya seorang anak, adalah izzah dan kemulian bagi islam, itu visi besar yang harus kita pegang. Medidik anak, bekerja, dan hal lainnya dalam sebuah keluarga adalah usaha yang barangkali terasa kecil, namun suatu saat akan menjadi bagian dalam visi besar umat islam, Rahmatan lil ‘âlamin, menjadi rahmat untuk alam semesta. Kita tidak pernah tahu, kalau Muhammad kecil, lahir di rumah kecil sederhana yang kemudian menerangi alam semesta, kita pun tidak pernah tahu tokoh-tokoh muslim dalam sejarah, lahir dari keluarga sederhana, kemudian membuat perubahan bagi dunia.

Mudah-mudahan keluarga baru ini menjadi cahaya bagi semesta.

Apakah Allah Menciptakan Kita Main-main?

Ada pertanyaan dari seorang atheis kenapa Allah menjadikan manusia seperti mainan-Nya, menciptakannya, memberinya musuh seperti mengadu domba mereka, menciptakan yang kafir dan beriman, kemudian menghukum manusia kafir di neraka. Seakan-akan kita manusia diciptakan hanya untuk kesenangan-Nya?

Jawaban:

Untuk menjawab hal ini manusia dapat diumpamakan dengan seorang pelajar dan sekolah tempat belajar beserta sistem dan aturan-aturan sekolah yang mengikatnya. Seorang pelajar, tentu selama di sekolah harus belajar, selain itu ia pun akan diuji dengan ulangan atau ujian-ujian yang lain, disamping hal tersebut, ada hal-hal yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan sekolah, namun kadang terjadi, seperti persahabatan dan permusuhan, kenakalan, kecurangan saat ujian dan seterusnya.

Atas dasar hal di atas, anehkah jika kemudian seseorang bertanya "Kenapa sekolah berlaku seenaknya, memberi ujian pada siswa, membebankan pelajaran yang seabreg pada siswa, lebih jauh lagi menciptakan permusuhan antar siswa, menumbuhkan bibit-bibit kenakalan dan seterusnya?"

Jawabannya "TIDAK ANEH" jika ternyata si penanya tidak tahu apa itu SEKOLAH, seperti apa dan bagaimana aturan yang berlaku di dalamnya. Terlebih lagi jika penanya menganggap bahwa aturan sekolah dan apa yang terjadi di sekolah merupakan bentuk-bentuk kesemenaan sekolah bersangkutan.

Sama halnya dengan orang yang bertanya tentang ALLAH, kenapa DIA menjadikan manusia seperti mainan-Nya yang bisa diperlakukan seenak-Nya, kenapa Allah menciptakan permusuhan, menghukum manusia dengan neraka dst. Ada kemungkinan pertanyaan ini muncul karena anggapan bahwa apa yang Allah bebankan kepada manusia, dan apa yang terjadi pada manusia, permusuhan, peperangan, ada yang kafir, ada yang beriman, adalah bentuk-bentuk KESEMENAAN ALLAH terhadap ciptaanNya.

Jadi langkah pertama agar tidak dibingungkan dengan pertanyaan semacam ini adalah, sebaiknya penanya kembali mengkaji atau mencari tahu tentang hakekat "KEHIDUPAN DUNIA", sebagaimana ia pasti dengan mudah tahu apa itu hakekat "SEKOLAH".

Sama halnya dengan sekolah, dunia diperuntukan untuk ujian, dan sama seperti sekolah, dunia pun punya aturan, pun sama dengan sekolah, fenomena-fenomena lain terkadang terjadi. Di dunia ada fenomena permusuhan, fenomena kekafiran, penyimpangan, kesesatan dan seterusnya. Allah tidak menciptakan kekafiran, karena semua manusia lahir tanpa atribut kafir, bahkan dalam islam ditegaskan bahwa semuanya lahir dalam keadaan fitrah (siap menerima kebenaran, kebaikan dan islam).

Singkatnya kehidupan dunia ini diciptakan Allah sebagai tempat ujian bagi manusia, yang punya aturan dan sistemnya sendiri. Allah berfirman:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun," (QS. Al-Mulk: 2)

Pada perjalanannya, manusia yang tidak ikut aturan Allah, yang menyimpang dari jalan-Nya, dan yang mengikuti apa kata setan, merekalah yang menciptakan permusuhan, merekalah yang menyemai bibit-bibit kejahatan. Artinya kekafiran tidak diciptakan sejak pertama manusia diciptakan atau dilahirkan, tapi terjadi selama manusia menjalankan proses kehidupannya di dunia.

Sama halnya seperti tujuan dari sekolah, siswa tidak dimaksudkan untuk tidak lulus ujian, atau agar menjadi pelajar yang gagal, tapi dalam proses pembelajaran, tidak semua ikut aturan, tidak semuanya sungguh-sungguh dalam belajar, alih-alih belajar, malah main-main, malah tawuran dst., dan semua ini diketahui oleh sekolah, oleh kepala sekolah; mereka sudah dapat memprediksi pasti akan ada yang gagal, pasti akan ada yang tidak lulus dan seterusnya. Apalagi dengan Allah, sejak pertama kali Allah menciptakan manusia, Dia sudah tahu mana ciptaan-ciptaan-Nya yang akan beruntung dan mana ciptaan-ciptaan-Nya yang akan merugi, mana ciptaan-Nya yang akan masuk surga, dan mana ciptaan-ciptaan-Nya yang akan masuk neraka, mana ciptaan-Nya yang kemudian menjadi beriman dan mana kemudian ciptaan-Nya yang menjadi kafir, semua tidak luput dari pengetahuann-Nya.

Jadi kalau hanya karena adanya permusuhan antar manusia, adanya yang beriman dan kafir, adanya yang masuk surga dan neraka, Allah dinilai memerlakukan manusia layaknya mainan, lantas seperti apa seharusnya kondisi manusia ketika Allah sungguh-sungguh menciptakannya, bukan sebagai permainan?

Kalau hanya karena adanya aturan sekolah yang mengikat, aturan kedisiplinan, adanya piket harian, atau adanya fenomena siswa yang gagal ujian dan permusuhan antar siswa, sekolah bersangkutan dinilai semena-mena terhadap siswa dan dinyatakan tidak sungguh-sungguh mendidik siswanya, lantas seperti apa seharusnya kondisi ketika sekolah dianggap serius mendidik siswa-siswanya?

Justeru dengan adanya aturan, adanya petunjuk kehidupan, pahala, dosa, surga dan neraka, menunjukan bahwa Allah serius menciptakan manusia. Allah berfirman:

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Muminun: 115)

Sekarang bayangkan jika sebuah sekolah tanpa aturan, siswa bebas untuk belajar atau tidak, tak ada hukuman, tak ada reward (penghargaan/pahala). Apa seperti ini sekolah yang serius mendidik para pelajarnya? Jangan lupa juga bayangkan jika kehidupan dunia ini penuh kebebasan, tak ada pahala, tak ada dosa, tak ada aturan yang mengikat, tak ada godaan dan seterusnya. Apa seperti ini barulah Allah dinilai menciptakan manusia secara sungguh-sungguh?

Pada akhirnya hal ini mengantarkan kita pada kenyataan lain bahwa Pencipta dunia ini; Allah, memang tidak menciptakannya seideal surga, itupun kalau yang bertanya percaya surga dan percaya akherat. Memang sudah sejak semula, dunia ini disetting sebagai tempat yang punya banyak kelemahan jika dibandingkan dengan tempat tinggal nenek moyang manusia (Adam), itupun jika penanya percaya kisah Adam. Allah berfirman:

"Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (QS. Taahaa: 17-19)

Kesimpulannya Allah tidak menciptakan manusia main-main. Kalau Dia main-main, tentu tidak perlu ada pertanggung jawaban. Allah berfirman:

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (QS. Al-Qiyama 37)

------

Semua pertanyaan membingungkan yang dikarang para atheis dasarnya adalah kira-kira, padahal hidup tidak boleh pakai kira-kira, mengira kalau alam semesta tercipta dengan sendirinya tanpa pencipta misalkan. Tentang hal ini Allah berfirman:

"Aku tidak menghadirkan mereka (orang-orang yang sesat, setan dan iblis) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong." (QS. Al-Kahf: 51)

Darimana keyakinan kalau alam semesta ini terjadi tanpa pencipta selain mengira-ngira?

Nasehat untuk Muslim:

Bukan seperti mereka cara seorang muslim berfikir, jauhi mengira-ngira sebisa mungkin. Karena mengira-ngira hanya akan membuat sesuatu semakin keruh. Seperti seseorang yang masuk kolam untuk mengambil ikan, ia tidak tau dimana letak ikan-ikannya, yang dilakukan hanya mengobok-obok kolam, mengira-ngira keberadaan ikan, tentu kolam semakin keruh dan ikan semakin tak terlihat.

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Isra: 36)

Seorang muslim berpijak pada ilmu, dan yakin kalau tujuan utama dari ilmu adalah untuk mengenal tuhannya. Artinya, sesorang tidak dikatakan berilmu ketika tidak mengenal Tuhannya. Inilah yang dikabarkan Al-Quran:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang berilmu." (QS. Faathir: 28)

Tentu, para atheis tidak terima jika dikatakan bukan orang yang berilmu, mereka juga tidak akan terima jika kira-kiranya mereka tidak dapat dipertanggung jawabkan, mungkin mereka juga akan mengatakan bahwa ilmu yang sebenarnya adalah apa yang bisa dibuktikan, sedangkan keberadaan tuhan tidak bisa dibuktikan. Dunia bisa dibuktikan, berwujud, terlihat, sedangkan akherat tidak. Jadi dunia, dan benda-benda materil lainnya, itulah ilmu yang sesungguhnya. Menurut mereka, selain dari pada itu bukan ilmu, melainkan dongeng-dongeng seperti cerita Harry Potter.

Apa yang Al-Quran katakan tentang sikap mereka di atas? simaklah baik-baik:

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan (sama sok tahunya dengan para atheis). Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan apapun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan (kira-kira), padahal sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berfaedah terhadap kebenaran (tidak mengantar pada kebenaran). Maka tinggalkanlah (Hai Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan (orang yang) tidak ingin (sesuatu) kecuali kehidupan dunia (saja). Itulah puncak ilmu pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Najm: 27-30)

Kalau pun mereka mengklaim dirinya sebagai orang-orang berilmu, ya sampai situlah kadar ilmu pengetahuan mereka; tidak ada tuhan, alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta, akherat tidak ada, dan segudang penemuan "Ilmiah" lainnya. Sungguh, betapa ilmiahnya pernyataan-pernyataan mereka, sama ilmiahnya dengan kisah kodok berubah menjadi pangeran tampan. Semoga Allah melindungi kita semua dari ilmiahnya versi mereka. Amin.