Apakah Allah Menciptakan Kita Main-main?

Ada pertanyaan dari seorang atheis kenapa Allah menjadikan manusia seperti mainan-Nya, menciptakannya, memberinya musuh seperti mengadu domba mereka, menciptakan yang kafir dan beriman, kemudian menghukum manusia kafir di neraka. Seakan-akan kita manusia diciptakan hanya untuk kesenangan-Nya?

Jawaban:

Untuk menjawab hal ini manusia dapat diumpamakan dengan seorang pelajar dan sekolah tempat belajar beserta sistem dan aturan-aturan sekolah yang mengikatnya. Seorang pelajar, tentu selama di sekolah harus belajar, selain itu ia pun akan diuji dengan ulangan atau ujian-ujian yang lain, disamping hal tersebut, ada hal-hal yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan sekolah, namun kadang terjadi, seperti persahabatan dan permusuhan, kenakalan, kecurangan saat ujian dan seterusnya.

Atas dasar hal di atas, anehkah jika kemudian seseorang bertanya "Kenapa sekolah berlaku seenaknya, memberi ujian pada siswa, membebankan pelajaran yang seabreg pada siswa, lebih jauh lagi menciptakan permusuhan antar siswa, menumbuhkan bibit-bibit kenakalan dan seterusnya?"

Jawabannya "TIDAK ANEH" jika ternyata si penanya tidak tahu apa itu SEKOLAH, seperti apa dan bagaimana aturan yang berlaku di dalamnya. Terlebih lagi jika penanya menganggap bahwa aturan sekolah dan apa yang terjadi di sekolah merupakan bentuk-bentuk kesemenaan sekolah bersangkutan.

Sama halnya dengan orang yang bertanya tentang ALLAH, kenapa DIA menjadikan manusia seperti mainan-Nya yang bisa diperlakukan seenak-Nya, kenapa Allah menciptakan permusuhan, menghukum manusia dengan neraka dst. Ada kemungkinan pertanyaan ini muncul karena anggapan bahwa apa yang Allah bebankan kepada manusia, dan apa yang terjadi pada manusia, permusuhan, peperangan, ada yang kafir, ada yang beriman, adalah bentuk-bentuk KESEMENAAN ALLAH terhadap ciptaanNya.

Jadi langkah pertama agar tidak dibingungkan dengan pertanyaan semacam ini adalah, sebaiknya penanya kembali mengkaji atau mencari tahu tentang hakekat "KEHIDUPAN DUNIA", sebagaimana ia pasti dengan mudah tahu apa itu hakekat "SEKOLAH".

Sama halnya dengan sekolah, dunia diperuntukan untuk ujian, dan sama seperti sekolah, dunia pun punya aturan, pun sama dengan sekolah, fenomena-fenomena lain terkadang terjadi. Di dunia ada fenomena permusuhan, fenomena kekafiran, penyimpangan, kesesatan dan seterusnya. Allah tidak menciptakan kekafiran, karena semua manusia lahir tanpa atribut kafir, bahkan dalam islam ditegaskan bahwa semuanya lahir dalam keadaan fitrah (siap menerima kebenaran, kebaikan dan islam).

Singkatnya kehidupan dunia ini diciptakan Allah sebagai tempat ujian bagi manusia, yang punya aturan dan sistemnya sendiri. Allah berfirman:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun," (QS. Al-Mulk: 2)

Pada perjalanannya, manusia yang tidak ikut aturan Allah, yang menyimpang dari jalan-Nya, dan yang mengikuti apa kata setan, merekalah yang menciptakan permusuhan, merekalah yang menyemai bibit-bibit kejahatan. Artinya kekafiran tidak diciptakan sejak pertama manusia diciptakan atau dilahirkan, tapi terjadi selama manusia menjalankan proses kehidupannya di dunia.

Sama halnya seperti tujuan dari sekolah, siswa tidak dimaksudkan untuk tidak lulus ujian, atau agar menjadi pelajar yang gagal, tapi dalam proses pembelajaran, tidak semua ikut aturan, tidak semuanya sungguh-sungguh dalam belajar, alih-alih belajar, malah main-main, malah tawuran dst., dan semua ini diketahui oleh sekolah, oleh kepala sekolah; mereka sudah dapat memprediksi pasti akan ada yang gagal, pasti akan ada yang tidak lulus dan seterusnya. Apalagi dengan Allah, sejak pertama kali Allah menciptakan manusia, Dia sudah tahu mana ciptaan-ciptaan-Nya yang akan beruntung dan mana ciptaan-ciptaan-Nya yang akan merugi, mana ciptaan-Nya yang akan masuk surga, dan mana ciptaan-ciptaan-Nya yang akan masuk neraka, mana ciptaan-Nya yang kemudian menjadi beriman dan mana kemudian ciptaan-Nya yang menjadi kafir, semua tidak luput dari pengetahuann-Nya.

Jadi kalau hanya karena adanya permusuhan antar manusia, adanya yang beriman dan kafir, adanya yang masuk surga dan neraka, Allah dinilai memerlakukan manusia layaknya mainan, lantas seperti apa seharusnya kondisi manusia ketika Allah sungguh-sungguh menciptakannya, bukan sebagai permainan?

Kalau hanya karena adanya aturan sekolah yang mengikat, aturan kedisiplinan, adanya piket harian, atau adanya fenomena siswa yang gagal ujian dan permusuhan antar siswa, sekolah bersangkutan dinilai semena-mena terhadap siswa dan dinyatakan tidak sungguh-sungguh mendidik siswanya, lantas seperti apa seharusnya kondisi ketika sekolah dianggap serius mendidik siswa-siswanya?

Justeru dengan adanya aturan, adanya petunjuk kehidupan, pahala, dosa, surga dan neraka, menunjukan bahwa Allah serius menciptakan manusia. Allah berfirman:

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Muminun: 115)

Sekarang bayangkan jika sebuah sekolah tanpa aturan, siswa bebas untuk belajar atau tidak, tak ada hukuman, tak ada reward (penghargaan/pahala). Apa seperti ini sekolah yang serius mendidik para pelajarnya? Jangan lupa juga bayangkan jika kehidupan dunia ini penuh kebebasan, tak ada pahala, tak ada dosa, tak ada aturan yang mengikat, tak ada godaan dan seterusnya. Apa seperti ini barulah Allah dinilai menciptakan manusia secara sungguh-sungguh?

Pada akhirnya hal ini mengantarkan kita pada kenyataan lain bahwa Pencipta dunia ini; Allah, memang tidak menciptakannya seideal surga, itupun kalau yang bertanya percaya surga dan percaya akherat. Memang sudah sejak semula, dunia ini disetting sebagai tempat yang punya banyak kelemahan jika dibandingkan dengan tempat tinggal nenek moyang manusia (Adam), itupun jika penanya percaya kisah Adam. Allah berfirman:

"Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (QS. Taahaa: 17-19)

Kesimpulannya Allah tidak menciptakan manusia main-main. Kalau Dia main-main, tentu tidak perlu ada pertanggung jawaban. Allah berfirman:

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (QS. Al-Qiyama 37)

------

Semua pertanyaan membingungkan yang dikarang para atheis dasarnya adalah kira-kira, padahal hidup tidak boleh pakai kira-kira, mengira kalau alam semesta tercipta dengan sendirinya tanpa pencipta misalkan. Tentang hal ini Allah berfirman:

"Aku tidak menghadirkan mereka (orang-orang yang sesat, setan dan iblis) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong." (QS. Al-Kahf: 51)

Darimana keyakinan kalau alam semesta ini terjadi tanpa pencipta selain mengira-ngira?

Nasehat untuk Muslim:

Bukan seperti mereka cara seorang muslim berfikir, jauhi mengira-ngira sebisa mungkin. Karena mengira-ngira hanya akan membuat sesuatu semakin keruh. Seperti seseorang yang masuk kolam untuk mengambil ikan, ia tidak tau dimana letak ikan-ikannya, yang dilakukan hanya mengobok-obok kolam, mengira-ngira keberadaan ikan, tentu kolam semakin keruh dan ikan semakin tak terlihat.

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Isra: 36)

Seorang muslim berpijak pada ilmu, dan yakin kalau tujuan utama dari ilmu adalah untuk mengenal tuhannya. Artinya, sesorang tidak dikatakan berilmu ketika tidak mengenal Tuhannya. Inilah yang dikabarkan Al-Quran:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang berilmu." (QS. Faathir: 28)

Tentu, para atheis tidak terima jika dikatakan bukan orang yang berilmu, mereka juga tidak akan terima jika kira-kiranya mereka tidak dapat dipertanggung jawabkan, mungkin mereka juga akan mengatakan bahwa ilmu yang sebenarnya adalah apa yang bisa dibuktikan, sedangkan keberadaan tuhan tidak bisa dibuktikan. Dunia bisa dibuktikan, berwujud, terlihat, sedangkan akherat tidak. Jadi dunia, dan benda-benda materil lainnya, itulah ilmu yang sesungguhnya. Menurut mereka, selain dari pada itu bukan ilmu, melainkan dongeng-dongeng seperti cerita Harry Potter.

Apa yang Al-Quran katakan tentang sikap mereka di atas? simaklah baik-baik:

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan (sama sok tahunya dengan para atheis). Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan apapun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan (kira-kira), padahal sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berfaedah terhadap kebenaran (tidak mengantar pada kebenaran). Maka tinggalkanlah (Hai Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan (orang yang) tidak ingin (sesuatu) kecuali kehidupan dunia (saja). Itulah puncak ilmu pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Najm: 27-30)

Kalau pun mereka mengklaim dirinya sebagai orang-orang berilmu, ya sampai situlah kadar ilmu pengetahuan mereka; tidak ada tuhan, alam semesta terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta, akherat tidak ada, dan segudang penemuan "Ilmiah" lainnya. Sungguh, betapa ilmiahnya pernyataan-pernyataan mereka, sama ilmiahnya dengan kisah kodok berubah menjadi pangeran tampan. Semoga Allah melindungi kita semua dari ilmiahnya versi mereka. Amin.

Komunikasi Politik Erdogan

A.      Karir Politik Erdogan
Recep Tayyip Erdogan lahir di Rize, sebuah kota kecil di pantai Laut Hitam Turki pada tanggal 26 Februari 1954. Presiden Erdogan merupakan anak dari seorang penjaga pantai Angkatan Laut di Turki. Saat berusia 13 tahun, Erdogan dan keluarganya pindah ke Istanbul demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Setelah pindah ke ibukota Turki (Istanbul), Erdogan masuk ke sebuah sekolah Islam di Turki, Sekolah Imam Hatip. Usai Lulus dari sekolah Islam Turki, Presiden Erdogan melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi di Istanbul Marmara University dengan mengambil jurusan kuliah tentang manajemen bisnis.
Karir politiknya dimulai pada Tahun 1976, saat itu ia menjadi ketua Beyoglu, sayap kepemudaan MSP (Milli Selâmet Partisi) atau Partai Penyelamat Nasional pimpinan Erbakan, salah seorang guru politik paling berpengaruh bagi Erdogan yang sudah ia kenal semenjak menjadi mahasiswa di Universitas Marmara Istanbul. Pada tahun 1980 setelah peristiwa kudeta militer, pemerintah berkuasa saat itu memberangus partai pimpinan Erbakan tersebut (MSP), dan melarang ia berpolitik, namun kemudian Erbakan kembali muncul dalam kancah perpolitikan Turki tahun 1987 setelah referendum mencabut larangan berpolitik bagi partai sayap kanan. Erbakan kemudian mendirikan Partai Refah (Partai Kesejahteraan).
Pada tahun 1985 Erdogan menjadi ketua Partai Kesejahteraan di Provinsi Istanbul dan memenangi pemilihan walikota Istanbul. Pada 1991, lewat Partai Kesejahteraan Erdogan terpilih sebagai anggota parlemen dari Provinsi Istanbul, namun dia dilarang menduduki kursinya sebagai wakil rakyat, diduga karena afiliasi politiknya yang berhaluan kanan.
Dalam pemilu lokal berikutnya, pada 27 Maret 1994, Erdogan menjadi walikota Istanbul. Sebagai walikota, Erdogan menjadi terkenal lantaran ia tampil sebagai administrator yang efektif dan populis dengan membangun prasarana, jalur transportasi dan memperindah kota itu. Dari sinilah ia menjelma menjadi politikus Turki paling populer. Pada masa pemerintahannya tersebut Erdogan berhasil membenahi masalah mendasar yang dihadapi warga Istanbul.
Prestasi menonjolnya yang sulit dilupakan warga adalah keberhasilannya dalam mengakomodasi pasokan air bersih untuk penduduk kota itu, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan melakukan aksi penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota, memerangi praktik prostitusi liar dengan memberikan pekerjaan lebih terhormat kepada wanita muda, dan melarang menyuguhkan minuman keras di tempat yang berada di bawah kontrol Walikota Istanbul.
Erdogan juga berhasil menguragi korupsi dan mengembalikan sebagian besar utang pemerintah Istanbul sebesar dua miliar dolar AS dan berhasil menarik investasi empat miliar dolar. Sayangnya pada tahun 1998 Mahkamah Konstitusi Turki memutuskan Partai Kesejahteraan dinyatakan tak sesuai dengan konstitusi karena mengancam sekularime.
Berdasar keputusan mahkamah konstitusi itu partai tersebut diberangus dan Erdogan menjelma dari politisi menjadi aktivis unjuk rasa menentang keputusan pemerintah itu. Dalam aksi unjuk rasanya Erdogan dituding memicu kekerasan serta menyuarakan kebencian rasial atau agama, karena membacakan puisi Ziya Gokalp seorang aktivis pan-Turkisme awal abad ke-20. Dalam puisi yang ia bacakan, disebutkan di dalamnya bahwa masjid adalah barak, kubah adalah helm tempur, menara masjid adalah bayonet dan iman adalah tentaranya.
Akibat puisi yang ia bacakan, Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 10 bulan, tetapi Erdogan hanya menjalani selama empat bulan mulai Maret hingga Juli 1999. Selain itu Erdogan juga dilarang berpolitik dan ikut pemilihan anggota parlemen.
Setelah keluar dari penjara, pada 14 Agustus 2001, Presiden Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AKP atau Adalet ve Kalkinma Partisi). Tak disangka, Partai AKP menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki kala itu. Pada pemilihan umum tahun 2002, Partai AKP memenangkan dua pertiga kursi di parlemen (34,1%), membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun.
Kemenangan Erdogan kemungkinan besar berhubungan dengan kondisi perkonomian Turki yang morat-marit saat itu sebagai warisan dari kudeta 1997 terhadap Erbakan. Pasca kudeta tersebut, pemerintahan Turki melemah yang pada  akhirnya membuat para investor enggan berinvestasi di Turki.
            Krisis ini memuncak pada Februari 2001 ketika bursa saham Turki hancur, suku bunga mencapai 3.000 persen dan nilai tukar lira Turki terhadap dolar jatuh amat drastis. Saat itu satu dolar AS setara dengan 1,5 juta lira Turki. Alhasil dalam delapan bulan pertama 2001, sebanyak 14.875 lapangan pekerjaan hilang dan bank sentral Turki kehilangan 5 miliar dolar AS karena banyaknya warga Turki yang menukarkan uangnya dengan dolar AS.
Itulah kondisi ekonomi yang diwarisi Erdogan saat menduduki jabatan perdana menteri pada 2002. Sama seperti saat menjadi wali kota Istanbul, Erdogan melakukan hal terpenting terlebih dahulu yaitu memperbaiki perekonomian Turki. Dan Erdogan terbukti sukses memperbaiki ekonomi Turki. Saat pertama kali menjadi perdana menteri, Erdogan mewarisi utang ke IMF sebesar 23,5 miliar dolar AS dan pada 2012, utang tersebut tersisa 900 juta dolar AS. Demikian juga dengan cadangan devisa Turki. Pada 2002, bank sentral Turki hanya memiliki cadangan devisa sebesar 26,5 miliar dolar AS. Jumlah itu meningkat hingga 92,2 miliar AS pada 2011.
Semua prestasi yang Erdogan lakukan ditambah kepiawaiannya dalam berpidato dan strategi-strategi kampanyenya yang menarik pada tahun 2003 Erdogan berhasil menjadi PM Turki hingga tahun 2013.
Pada 10 Agustus 2014, Turki menggelar pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya setelah 91 tahun – yang selama dipilih oleh parlemen. Erdogan maju dan akhirnya terpilih menjadi presiden Turki. Dan pada 28 Agustus, Erdogan resmi dilantik menjadi Presiden Turki ke-12. Erdogan pun kemudian memperbesar wewenang presiden yang selama ini hanya sebatas peran seremonial. Selama masa kepemimpinannya, pemerintahan Turki sedikit demi sedikit mencabut berbagai larangan yang diberlakukan pemerintah Turki yang sekular. Pada 2013, Erdogan mencabut larangan mengenakan jilbab di ruang publik dan institusi pemerintahan, kecuali di institusi hukum, militer dan kepolisian.

B.       Bentuk Komunikasi Politik Erdogan
Dari perjalanan karir politik Erdogan di atas setidaknya dapat diambil beberapa bentuk komunikasi politik yang menjadi faktor kesuksesan Erdogan dalam membawa Turki ke arah masa depan yang lebih baik, diantaranya, pertama, Erdogan mampu meningkatkan perekonomian Turki. Sebelum Erdogan berkuasa, Turki menghadapi krisis ekonomi pada 2001. Ketika mulai berkuasa, Erdogan segera memberlakukan reformasi ekonomi dengan kebijakan-kebijakannya yang lebih pro terhadap pasar. Para investor kembali menanam modal di Turki yang kemudian membuka lapangan kerja dan meningkatkan pembangunan infrastruktur di hampir semua wilayah. Hasilnya, Turki saat ini telah menjadi salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia.
Salah satu kebijakan politisnya terkait perekonomian adalah apa yang ia lakukan pasca peristiwa Arab Spring. Erdogan mengeluarkan kebijakan Arab Spring Tour, yaitu sebuah safari politik ke negara-negara konflik karena revolusi, seperti Suriah, Libiya dan Tunisia. Hal ini diwujudkan dengan pemberian bantuan oleh sekitar 259 pengusaha Turki sebesar $853 juta dalam bentuk kontrak baru. Erdogan juga membuka komplek industri sebesar $10 juta yang akan mempekerjakan 200 orang.
Kedua, karakternya yang sederhana dan religius. Saat menjabat sebagai walikota Istanbul, Erdogan berhasil memerlihatkan sosoknya kepada warga sebagai sosok penolong bagi kaum miskin papa yang membutuhkan. Ia juga menunjukkan dirinya sebagai orang yang taat beragama dan menjalankan salat tepat pada waktunya. Dalam pidato dan ceramahnya, ia selalu menyertakan dalil dari Alquran dan hadits. Erdogan juga masih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana di Qasim Basya. Ia menolak pindah ke tempat lain yang layak bagi seorang Wali Kota di Istanbul. Salah satu kebiasaan Erdogan sejak menjadi Wali Kota Istanbul hingga menjadi Perdana Menteri pada Mei 2003 adalah menjaga untuk selalu berbuka puasa selama bulan Ramadhan bersama keluarga fakir miskin dengan ditemani istri tercintanya, Emine. Dia juga berbagi makanan bersama orang miskin dan terlihat akrab dengan mereka.
Ketiga, Erdogan mampu memainkan banyak peran dan menempatkan diri. Banyak orang yang menilainya sebagai sosok religius karena Erdogan sering menampilkan simbol-simbol agama, pada saat yang sama Erdogan mampu meyakinkan kaum sekuleris bahwa dirinya bukan ancaman bagi mereka. Perlu diketahui bahwa inilah yang ditakutkan oleh orang-orang sekuler, bahwa Erdogan diyakini banyak kalangan, terutama militer, berusaha menghilangkan budaya sekuler Turki yang sudah dianut selama ini. Ini pula yang diduga sebagai motif yang melatar belakangi terjadinya kudeta militer terhadap Erdogan beberapa bulan lalu.[1]
Tidak seperti Erbakan, guru politik Erdogan yang terlalu menampilkan keislaman, atau seperti Mursi yang belum lama naik sudah tergesa-gesa menyingkirkan orang-orang Husni Mubarak dan memulai wacana pembuatan undang-undang syariah, Erdogan lebih piawai dalam menampilkan dirinya sebagai muslim taat secara bertahap, agar bisa diterima semua kalangan.
Saat berkunjung ke ibu kota Kroasia Zagreb beberapa waktu lalu, dalam jumpa persnya disana, ketika ditanya wartawan tentang konstitusi baru, ia menjawab bahwa negaranya akan menekankan islam karena 99% rakyat Turki beragama islam, namun walaupun demikian hak-hak dan kebebasan semua agama dilindungi.
Jika saya sebagai muslim bisa hidup seperti yang saya inginkan maka seorang kristen dapat melakukannya juga. Hal yang sama berlaku untuk orang-orang yahudi, dan juga untuk atheis” Kata Erdogan sebagaimana yang dilansir Daily Sabah.[2]
Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan menyusul perdebatan di dalam parlemen Turki, di mana ketua parlemen, İsmail Kahraman mengusulkan agar konstitusi baru Turki harus dibuat dengan tidak berdasarkan referensi sekularisme.
Erdogan juga menyampaikan bahwa peredebatan masalah konstitusi negara, sekularisme atau yang lainnya hanya akan mengganggu agenda negara. Hal terpenting menurutnya untuk memastikan negara memiliki konstitusi sipil.
Sebagian orang salah memahami pernyataan Erdogan ini bahwa ia tidak minat dengan negara islam, namun sebetulnya tidak demikian. Barangkali Erdogan paham benar bahwa penyematan kata islam untuk negara adalah sesuatu yang keliru. Memang tidak ada istilah negara islam, sama halnya tidak ada istilah negara budha, kristen, hindu atau yang lainnya. Negara adalah negara, yang ada adalah konsep negara madani, seperti yang terjadi pada zaman Nabi, sebuah konsep ideal ketika seluruh masyarakat paham betul akan hak dan kewajiban masing-masing, artinya jika ia muslimah tentu akan berhijab, tentu akan salat dan seterusnya.
Oleh karena itu, Erdogan sebagai pemerintah yang merepresentasikan negara tidak mewajibkan hijab, karena memang wilayah pemerintah tidak sampai masuk pada tataran pemaksaan, inilah barangkali yang dikhawatirkan militer Turki bahwa jika Erdogan memimpin, semua wajib berhijab, konstitusi dirubah, dan seterusnya (dipaksa). Tugas pemerintah, kalau pun ingin agar para wanita muslimah berhijab, yang dilakukan hanya sebatas melakukan penyuluhan, atau penyadaran, bukan pemaksaan. Itu konsep umum dalam dakwah yang juga berlaku bagi pemerintah, karena semua muslim adalah dai, dengan kata lain, semua muslim hanya diwajibkan berdakwah (menyeru), bukan memaksa. Inilah alasan kenapa dalam perundangan islam ada yang dinamakan jizyah (upeti), sebagai alternatif ketika kaum minoritas non muslim tidak ingin masuk islam. Tentu jika prinsip islam adalah pemaksaan, ia pasti melegalkan pemaksaan atau pembantaian terhadap kaum minoritas seperti yang terjadi dalam sejarah perang salib atau seperti yang terjadi dengan pemerintahan Myanmar, dan itu tidak pernah terjadi dalam sejarah penaklukan islam terhadap negara-negara berpenduduk non muslim.
Sebagian juga memahami bahwa pernyataan Erdogan mengisyaratkan bahwa sekularisme adalah konsep terbaik, namun kenyataannya lagi-lagi tidak demikian. Erdogan hanya berusaha meluruskan arti dari sekularisme yang selama ini salah dipahami dan salah dipraktekan. Sekularisme selama ini identik dengan anti agama, sehingga simbol-simbol agama seperti hijab diberangus. Padahal, sekularisme, sesuai definisinya hanya menyekat, membatasi dan membagi mana wilayah agama, dan mana wilayah pemerintahan, bukan melarang atau membenci pada agama-agama tertentu dan simbol-simbolnya, apalagi memberangusnya. Maksudnya, masih ada sisi positif dari sekuarisme yang bisa diambil faedah dan manfaatnya.
Jika Erdogan meyakini bahwa sekularisme adalah yang terbaik, tentu pada Pada 2013, Erdogan tidak akan mencabut larangan mengenakan jilbab di ruang publik dan institusi pemerintahan. Erdogan sepertinya lebih berorientasi pada esensi, oleh karena itu ia tidak memermasalahkan demokrasi, atau sekularisme. Jika diumpamakan, Erdogan adalah satu dari tiga tipe manusia dalam menghadapi arus, yang pertama tipe orang yang melawan arus, yang kedua, tipe orang yang terbawa arus, yang ketiga, tipe orang yang memanfaatkan arus dan mengarahkannya agar produktif.
Keempat, prestasi Erdogan. Bahasa agama menyebutkan bahwa Lisanul hâl afshah min lisanil maqâl, artinya bahwa bahasa non verbal itu lebih mengena atau dapat dipercaya ketimbang bahasa verbal. Bukan sekedar pencitraan atau obral janji, Erdogan pada karir pertamanya sebagai walikota Istanbul telah membuktikan dengan berbagai prestasinya. Ia mengeluarkan Istanbul dari hutang milyaran dolar menjadi keuntungan dan investasi 12 milyar dan pertumbuhan tujuh persen. Erdogan juga sukses mengentaskan kemiskinan, meresmikan situs untuk melayani masyarakat untuk pertama kalinya, memperlihatkan taman-taman umum, melestarikan lingkungan kota di kota yang ditinggali kurang lebih seperlima penduduk Turki.
Prestasi ini lebih rakyat pahami ketimbang sekedar ucapan. Jadi sangat wajar jika banyak rakyat Turki yang menyanjungnya. Hal ini tentu berbeda dengan klaim kesuksesan Jokowi, yang nyatanya adalah serangkaian pencitraan media terhadap beberapa aksi blusukannya. Blusukan yang dilakukan Erdogan, melahirkan solusi dan prestasi.

Dari berbagai sumber



[1]http://internasional.kompas.com/read/2016/07/16/14141581/pengawal.sekularisme.erdogan.dan.kudeta diakses 10 Desember 2016.
[2] https://m.tempo.co/read/news/2016/04/30/115767273/presiden-erdogan-tolak-turki-menjadi-negara-islam diakses 10 Desember 2016.

Apakah Kristen Harus Dimusuhi & Diperangi?



Islam tidak memosisikan umat beragama lain sebagai musuh yang pantas diperangi (jihad), kekafiran bukan sebab memusuhi apalagi memerangi. Kezaliman lah yang pantas dimusuhi dan diperangi. Hal ini perlu diutarakan, khawatir muncul anggapan bahwa agama kristen dan yahudi itu musuh. Bukan karena agamanya lantas kita memusuhi, tapi karena sikap penganut agamanya yang zalim.

Artinya jika ada diantara mereka yang moderat (bijak), tidak membenci, maka mereka adalah saudara, setidaknya saudara dalam hal kemanusiaan.Sehingga jika perang terpaksa terjadi, tidak lantas membabi-buta, dan menghewankan manusia. seperti yang pernah umat kristiani lakukan pada perang salib.

Apa yang mereka lakukan terhadap umat islam ketika kemenangan memihak mereka?

Saking banyaknya muslim yang dibantai Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjiri setinggi mata kaki: “If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.”

Manusia ditumpuk seperti piramida dan dibakar, tak seorang pun tahu berapa jumlahnya: “No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were.” (David R. Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, (New York, St. Martin’s Press, 1999).

Itulah kemenangan mereka. Bagaimana dengan kemenangan kita (umat islam)? Ketika Shalahuddin al ayyubi berhasil memenangkan peperangan, tak pernah tercatat dalam sejarah bahwa beliau membantai umat kristiani dengan keji, inilah kemenangan kita, kemenangan umat islam! di Andalusia Thariq bin ziyad melakukan hal yang sama. Sebelum Shalahuddin, Amru bin Ash juga melakukan hal yang sama.

Prinsip iman mereka adalah “Siapa saja yang mau, silahkan beriman, yang memilih kafir, silahkan” (QS. Al – Kahfi: 29), “Tidak ada paksaan dalam beragama” (QS. Al – Baqarah: 256). Prinsip tersebut mencerminkan bahwa logika agama ini bukan hanya matang, tapi juga dewasa. Layaknya orang dewasa, ia memandang bahwa “keyakinan” adalah privasi, atau wilayah pribadi setiap manusia. Iman itu ketundukan, jadi paksaan jelas bukan iman! Pun bukan pula cinta! Tak sedetik pun dibenarkan mengajak paksa penganut agama tertentu untuk memeluk agama lain, apalagi mengintimidasi dan menyerang.

Umat Kristiani perlu kembali mengkaji kitab suci mereka, karena para nabi perjanjian lama se-iya sekata dengan prinsip islam.

Dalam alkitab (perjanjian lama), digambarkan bagaimana peperangan yang Nabi Musa lakukan bersama pengikutnya (bani israel). Saat itu, setelah Musa dan bani Israel keluar dari Mesir, tak ada tempat yang bisa mereka huni selain gurun pasir, mau tak mau mereka harus mencari tempat, sampai akhirnya hal tersebut mendorong Musa untuk mengutus pengikutnya dari bani Israel agar menyampaikan pesan kepada seorang raja:

Izinkanlah kami melalui negerimu; kami tidak akan menyimpang masuk ke ladang-ladang dan kebun-kebun anggurmu, kami tidak akan minum air sumurmu, di jalan besar saja kami akan berjalan, sampai kami melalui batas daerahmu.” (Bilangan 21: 22)

Namun sang raja tak mengizinkan mereka bahkan menyiapkan tentara untuk menyerang Musa dan bani Israel. Musa dan bani Israel pun memerangi mereka, dan kemenangan akhirnya diraih oleh Musa. Demikianlah Musa dan pengikutnya berperang agar bisa hidup, namun peperangan ini terjadi hanya antara raja, pasukannya dan Musa, tidak melibatkan rakyat sama sekali, bahkan setelah kemenangan, Musa dan bani Israel menyejahterakan negeri tersebut dan membangung ulang (memugar) kota-kota.

Peperangan bukanlah keinginan dan bukan tujuan, sekalipun untuk tujuan mulia (menyebarkan agama). Rasulullah saw bersabda:

عن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا انْتَظَرَ حَتَّى مَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ خَطِيبًا قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

Dari Abdullah bin Abi Aufaa radliallahu 'anhuma, “Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari-hari ketika hendak berhadapan dengan musuh, Beliau menanti hingga terbenamnya matahari kemudian berdiri berkhothbah di hadapan manusia seraya berkata: ‘Wahai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh bersabarlah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu terletak di bawah kilatan pedang’. Kemudian Beliau berdoa: ‘Ya Allah Yang Menurunkan Kitab, Yang Menjalankan awan, yang mengalahkan pasukan sekutu (ahzab), kalahkanlah mereka dan tolonglah kami dalam menghadapi mereka’.” (HR. Bukhari. Kitab : Jihad dan penjelajahan. Bab : Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam jika tidak berperang di awal siang.)

Umat kristiani sudah salah kaprah dalam memahami ajaran mereka. Mereka pikir memerangi umat islam adalah ibadah. Umat islam tidak pernah berfikir kalau menzalimi (menyerang tanpa sebab) itu Ibadah. Umat islam tidak pernah berfikir kalau perang itu solusi. Para pendahulu kita, para sahabat, benar-benar memahami hal ini.

Diriwayatkan bahwa salah satu alasan khalifah Umar bin Khattab melengserkan Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai panglima perang, adalah karena Khalid terlalu banyak membunuh musuh-musuhnya dalam peperangan, Umar berkata “Sesungguhnya di pedang Khalid terdapat cucuran darah” , maksudnya terlalu banyak memakan korban. Karena sayyidina Umar sendiri berharap, agar kemenangan sebisa mungkin dilakukan tanpa membunuh.

Sebaliknya, Khalifah Umar memuji cara perang Amru bin Ash ketika beliau hendak mengislamkan orang Mesir. Umar berkata “Sungguh aku kagum dengan cara perang Amru bin ash, benar-benar perang yang santun, lembut dan mudah” .

Inilah alasan kenapa islam masuk ke indonesia dengan jalan damai (tanpa peperangan), begitu pula mesir, islam masuk ke dalamnya tanpa peperangan. Bahkan nabi kita mencontohkan penaklukan fenomenal, yang juga tanpa pertumpahan darah, “Idzhabuuu wa antum thulaqaa”, Pergilah, kalian bebas. Hanya itu yang Rasulullah saw ucapkan ketika Makkah sudah beliau taklukan.

Agama islam adalahagama pemaaf, agama kasih, namun jika diusik, dianiyaya, ia akan membalas sewajarnya.

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al – Baqarah: 190)

Sejatinya hubungan Orang-orang Islam dengan non muslim sendiri adalah hubungan damai, bukan peperangan, banyak ayat Al-Quran menjelaskan tentang hal ini, salah satunya seperti yang Allah firmankan:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Adapun ayat-ayat yang menyeru kaum muslim melakukan jihad, haruslah dipahami secara keseluruhan, tidak parsial.

Pemahaman komprehensif tentang ayat-ayat tersebut akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa peperangan itu dibatasi oleh dua tujuan dasarnya; untuk membela diri dari zalimnya tindakan orang lain , atau untuk mencegah kesemena-menaan yang mungkin terjadi terhadap pemeluk agama; kalau-kalau ada orang ingin memeluk agama islam, namun dihalang-halangi, maka “Perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al – Baqarah: 193). Seperti ketika umat islam memerangi romawi di Syam, bukan karena alasan agama mereka (karena mereka kristen), melainkan karena mereka telah berbuat tindakan zalim dan lalim (pembunuhan) terhadap pembesar romawi yang masuk islam, buktinya, orang arab Kristen penduduk asli Syam tidak diperangi.

Ayat-ayat lain yang berbicara tentang suruhan berperang tanpa adanya keterangan alasan “kenapa harus berperang”, menurut pandangan ulama, disamakan sebab dan alasannya dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa berperang itu hanya ketika disakiti atau diserang.Wallahu’alam bis shawab.

YESUS kah Yang disalib? Apa Kata alkitab?


Jelas yang disalib bukan YESUS, alkitab sendiri berkata tentang itu. Yang disalib baru beberapa jam sudah kehausan. Padahal:

Matius 4:1-2
(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.

(2) Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum.

Jika seorang NABI disalib, ia akan pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada TUHAN, tapi yg disalib ini malah berkata Dalam Matius Pasal 27:46 disebutkan bahwa Yesus tidak rela atas apa yang terjadi pada dirinya:

“Pukul tiga sore, Yesus berteriak dengan suara keras, ‘Eli, Eli, lama
sabakhtani?’ yang berarti, ‘Ya Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapakah Engkau
meninggalkan Aku?”

NABI saja akan RELA, apalagi TUHAN, setidaknya bagi orang kristen yang disalib itu adalah TUHAN.


Salah satu mukzizat Yesus adalah mengubah Wajah, berikut keterangannya:

Markus pasal 9 ayat 2: "Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,:".

Kondisi penangkapan YESUS adalah malam hari, menjelang dini hari, belum lagi tentara yang hendak membunuh beliau hanya kenal nama YESUS, tidak kenal wajah. Boleh jadi yang ditangkap bukan YESUS, karena bukan hal aneh bagi pengikut para Nabi untuk mengorbankan dirinya demi menyelamatkan beliau.

Jika Yesus disalib, ini akan sangat bertentangan dengan:

GALATIA PASAL 3 AYAT 13:” sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Dari ayat ini jelaslah yang disalib  bukan Yesus, sebab apakah mungkin orang yang suci atau orang yang mulia seperti Yesus disebut Terkutuk??? Rasanya rancu kalau kita mengatakan ada NABI YANG TERKUTUK, maka lebih rancu dan janggal, bahkan dosa lagi kalau kita mengatakan TUHAN YANG TERKUTUK. (stidaknya umat kristaini menganggap Yesus sbagai tuhan).

Yang terkutuk hanyalah IBLIS, artinya yang disalib itu bukan YESUS, melainkan IBLIS. Lalu siapa itu IBLIS?

YOHANES PASAL 6 AYAT 70: "Jawab Yesus(isa) kristus(al masih) kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis."
Siapa yang dimaksud Iblis disini?? Mari kita baca surat berikutnya:

YOHANES PASAL 6 AYAT 71:” Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu. Jadi yang disebut Iblis adalah Yudas, karena - menurut alkitab - Yudas berkhianat, ia berusaha untuk menyerahkan Yesus kepada tentara Romawi, maka Allah merubah wajahnya, ini kemungkinan kedua yang terjadi saat peristiwa penangkapan Yesus.