Showing posts with label Rubrik. Show all posts
Showing posts with label Rubrik. Show all posts

Injil Dalam Bahasa Aram Di Temukan

Belum lama ini, pemerintah Turki mengumumkan tentang penemuan Kitab Injil Asli Barnabas, salah satu murid pertama Yesus (Isa Almasih). Hal yang tentu saja mengejutkan banyak pihak, termasuk kubu Vatikan itu sendiri.

Sebagaimana diberitakan oleh DailyMail, basijpress dan NationalTurk, bahwa Injil Barnabas asli tersebut ditemukan pada tahun 2000 lalu di Turki, namun ditutupi oleh pemerintah Turki selama lebih dari 12 tahun, dan baru sekarang di beberkan ke publik.

Lembaran-lembaran kulit hewan itu ditulis dengan huruf Syriac dengan dialek bahasa Aram, bahasa yang sama seperti bahasa yang umum dipakai pada masa Yesus Isa Almasih. Pemerintah Turki menyakini bahwa kitab kulit hewan tersebut adalah Injil Barnabas orisinal.

Injil asli injil barnabas

Hal yang menarik dari Kitab Injil Barnabas Asli asal Turki tersebut menyatakan bahwa YESUS TIDAK PERNAH DI SALIB, dan terdapatnya ayat-ayat yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang benar serta pengakuan tentang kehadiran Nabi Akhir Jaman, Muhammmad SAW.

Pengakuan itu terdapat pada bab 41 dari Kitab Barnabas yang ditemukan di Turki tersebut. Berikut ini terjemahannya :

"Allah telah menyembunyikan diriNya sebagai Malaikat Agung Michael berlari mereka (Adam dan Hawa) dari surga, (dan) ketika Adam berbalik, ia melihat bahwa di atas pintu gerbang ke surga tertulis "La Ela ELA Allah, Mohamad Rasul Allah"

Kitab yang masih menjadi perdebatan tersebut disebutkan kini disimpan di Justice Palace, Ankara, Turki dengan pengawalan ketat polisi bersenjata lengkap dan keamanan maksimum. Pihak Iran lewat Basij Press menyatakan bahwa apa yang tertulis di kitab Barnabas asli tersebut adalah bukti tentang kebenaran Islam, yang walau begitu ditanggapi oleh sinis dari berbagai pihak.

Injil asli injil barnabas

Bahkan pihak Kristen lewat berbagai jamaatnya menyatakan bahwa Kitab Barnabas tersebut diragukan keotentikannya. Namun walau begitu pihak Vatikan lebih arif dengan menyatakan telah mengajukan permohonan resmi ke pemerintah Turki untuk membaca dan menganalisa keaslian kitab kontroversial itu.

Para agamawan menyatakan bahwa jika Alkitab Barnabas tersebut terbukti asli, maka akan mengakibatkan rusaknya kredibilitas Gereja, dan akang menimbulkan revolusi agama Nasrani besar-besaran di seluruh Dunia.Tentu saja penemuan ini cukup menarik, sama menariknya dengan penemuan dan fakta sejarah bahwa Benua Amerika pertama kali di temukan oleh para pelaut tangguh Islam (baca artikelnya di sini)

sumber: http://www.poztmo.com/2012/05/injil-barnabas-asli-ditemukan.html

Kisah-Kisah Keajaiban Perang di Gaza

Gaza kembali memanas, Zionis Israel kembali berulah, jet tempur negara Yahudi itu terus membombadir Jalur Gaza, akibatnya puluhan warga dilaporkan gugur termasuk anak-anak yang tak berdosa.

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.


Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.


Perluasan wilayah jajahan israel di Palestina
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnalis, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Berikut ini rangkuman kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti.

1. Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza.

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

2.Suara Tak Bersumber.

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beristighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya

3. Saksi Serdadu Israel.

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?

4. Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh.

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihat lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

5. Merpati dan Anjing.

Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpati itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujani. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

6. Kabut pun Ikut Membantu.

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu
meledak.

7. Selamat dengan al-Qur’an.

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlubang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).***

8. Harum Jasad Para Syuhada.

Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya
untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misik dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Foto: Global Post
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi ruangan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaimana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

9. Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir.

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

10. Terbunuh 1.000, Lahir 3.000.

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.

Subhanallah…………

"Allahumma ayyidhum bijunudika fis samawat wal ardh"
Ya Allah, bantu mereka dengan tentara-tentara langitmu dan bumi mu"

Sumber: Islamicgeo

Merantau

Merantau Elvandi.com

Semesta ini terus menggoda manusia dengan berbagai fenomena untuk dipikirkan dan dianalisa, namun manusia yang apatis, berjalan di atas rutinitas tanpa perenungan yang membekas.


Maka jika dalam Qur’an bertebaran ayat-ayat tentang semesta, “dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah” [an-Naba:14], “Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?” [saba:9]. “Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”[an-Nahl:14]. “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman” [al-Qhashash:3], “dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” [al-Fajr:9].

Ribuan ayat sejenis ini bukan sekedar penguat akidah, bahwa segala sesuatu ada penciptanya dan kisah-kisah terhahulu yang hilang sumbernya itu ada dalam Qur’an yang benar. Tapi ia mempunyai fungsi yang indepeden, yang berkaitan dengan misi manusia sebagai pengelola bumi. Qur’an tidak memberikan rumus-rumus ilmiah, tapi ia mengarahkan tema-tema umum agar manusia mengeksplorasinya. Karena memang ilmu-ilmu inilah bahan dasar manusia untuk mengelola bumi ini.

Qur’an tidak hanya memberikan pintu-pintu pengetahuan, tapi juga metodologinya. “Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi lalu analisalah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu…” [ar-Rûm:42], “Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi lalu analisalah bagaimana Allah memulai penciptaan…” [al’-‘Ankabût:20]. Dua metode ini pernah menjadi tradisi dalam kehidupan umat Islam yaitu ‘siyar’ dan ‘nadzr’ [Ekspedisi dan Analisa].

Ekspedisi, adalah rahasia gunung karya ilmuan-ilmuan muslim. Ruang belajar mereka tidak tersekat kota, bahkan benua. Seperti Baqi Ibnu Makhlad, dari Andalusia, di daratan paling Barat Eropa, yang sekarang menjadi Spanyol. Riset ilmiahnya berbekal naluri seorang ekspeditor. Ia arungi bentangan sahara Afrika Utara menuju Baghdad selama 2 tahun untuk bergabung dalam kajian Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu kembali ke negerinya hingga menjadi guru besar. Tapi berkarir di Andalusia dan negeri-negeri Afrika utara tidak cukup untuk memenuhi dahaga pengetahuannya. Ibnu Makhlad belum puas, hingga ia tempuh ekspedisi keduanya menuju Syam, lalu Madinah, Mekkah dan Mesir, hingga ia berhasil mengumpulkan riwayat hadist dari 1.300 sahabat Rasulullah dalam Musnad Baqi ibn Makhlad, yang kata Ibnu Hazm “belum pernah ada musnad yang levelnya lebih tinggi dari ini”.

Ibnu Batutah, dari Tangiers Maroko, lebih dahsyat lagi, ekspedisi ilmiahnya melebihi 120 ribu kilometer di abad 14, seorang diri. Ia jelajahi Afrika, bagian selatan dan timur Eropa, timur tengah, asia tengah, selatan, Cina, hingga Aceh. Untuk meneliti berbagai tipe budaya, karakteristik umat manusia, fenomena alamnya, corak peradabannya, yang di hari ini menjadi sumber terpenting dalam ilmu Anthropologi, bahkan hingga divisualisasikan dalam film ‘Journey to Mecca’.

Jika al-Idrisi di abad 12 mampu meneliti dataran bumi ini hingga bisa menggambar peta dunia yang relatif mirip peta modern, generasi muda muslim abad 21 ini belum tentu mampu memahami peta yang mudah di akses di google earth, terlebih untuk mengeksplorasinya.

Metodologi yang Allah ajarkan ini memang sesuai dengan kaidah peradaban. Pengetahuan menunggu di datangi bukan ditunggui kedatangannya. Oleh karena itu ilmuan-ilmuan barat berlomba dalam ekpedisi dan eksplorasi. Lihatlah para researcher Orang Utan dan para pakarnya di Kalimantan sana! Apakah anak negeri kita sendiri? Atau amatilah liputan National Geographic, berapa jauh jarak rumah nyaman mereka dan lapangan penelitian para researcher itu? kemudian adakah korelasi antara produktivitas ilmiah seorang doktor tanah air sebelum mendapat jabatan dosen yang nyaman dan setelahnya? Apakah ada keterputusan antara ekspeditor muslim seperti al-Idrisi dan sarjanawan muda muslim hari ini? Apa yang terputus? Padahal Qur’an yang dibaca mereka dan memberikan arah pengetahuan itu sama dengan yang dibaca hari ini.

Bukan ajaran Qur’an yang terputus, tapi naluri ekspedisi dan eksplorasi umat yang kian tergerus. Gaya hidup instan dan konsumtif semakin menggerogoti idealisme ini. Walaupun disetiap zaman selalu ada obsesi-obsesi luhur personal yang mengalahkan zaman, tapi umumnya naluri ekspedisi ini ditumbuhkan atau dimatikan oleh masyarakat.

Misalnya, mimpi terbesar para mahasiswa adalah segera selesai kuliah untuk segera melamar kerja. Maka bidang-bidang yang paling cepat menghasilkan finansial selalu paling padat. Karena kursi-kursi masyarakat belum diizinkan diduduki para ilmuan murni. Pencetakan generasi teknisi akan lebih diminati, yang akan merakit mobil, motor, ponsel, komputer impor untuk dijual di dalam negeri. Dibanding proyeksi satu tim pakar kimia, fisika, matematika, elektro, informatik yang dikirim belajar dalam satu proyek integral menciptakan produk-produk asli dalam negeri.

Saat naluri ekspedisi ilmiah hilang, umat Islam kehilangan tulang-tulang pengetahuan yang akan menegakkan kehidupannya, dan selalu mencari sandaran walau dari tongkat-tongkat keropos milik umat lain. Tapi perubahan itu diciptakan, bukan dinantikan. Karena fenomena masyarakat yang sekarang disaksikan adalah hasil pemikiran zaman muda mereka yang dibiasakan. Sehingga wajah masyarakat 2-3 dekade lagi adalah refleksi gaya hidup pemuda hari ini.

Beberapa daerah Indonesia mempunyai budaya merantau, seperti Suku Minangkabau, Bugis-Makassar, Banjar, Bawean, Batak, dan Madura. Terlepas dari perbedaan filosofi perantauan dari masing-masing budaya tersebut, tapi irisannya ada dalam pencarian pengalaman [experience]. Jika budaya ini bisa diadopsi generasi muda, ia akan menjadi landasan awal yang bagus. Untuk kembali, setidaknya menumbuhkan naluri ekspedisi dan berani keluar dari zona nyaman untuk mencari ‘sesuatu’. Apalagi jika budaya ini dikonversi oleh pemerinah secara massif menjadi ekspedisi ilmiah, untuk memahami semesta ini, menganalisa hukum-hukumnya, untuk kemudian menciptakan revolusi pengetahuan. [Edisi Lengkap Serial Pemuda bisa di akses di website : www.elvandi.com]

Feurs, Perancis 29 Januari 2013
Majalah Intima Edisi Februari 2013

Pesan Allah Dibalik Penciptaan Gunung

Definisi Gunung:

Gunung adalah tanah dan atau bebatuan yang menonjol ke atas lebih tinggi daripada wilayah di sekitarnya.

Pembentukan Gunung:

Gunung terbentuk sebagai akibat dari pergerakan dan benturan lempeng padat yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempeng bumi bertemu, maka lempeng bumi yang lebih kuat akan menyelusup di bawah bagian lempeng bumi yang lebih lemah. Lempeng bumi yang di atas kemudian membentuk gunung dan pegunungan. Sementara lempeng yang di bawah terus menghunjam masuk ke dalam, oleh karena itulah gunung memiliki bagian bawah yang lebih panjang dari bagian atasnya. Frank dalam bukunya “Bumi” mengibaratkan gunung dengan paku yang ujungnya tertanam atau tertancap di kedalaman bumi.

Proses pembentukan gunung berlangsung menurut skala tahun geologi yaitu berkisar antara 45 – 450 juta tahun yang lalu. Misalnya pegunungan Himalaya terbentuk mulai dari 45 juta tahun yang lalu, sedangkan pegunungan Appalache terbentuk mulai dari 450 jutan tahun yang lalu.



Gunung Di Dalam Al-Quran

Al-Quran menyebutkan gunung sebanyak 29 kali dan menjelaskan bahwa gunung itu seperti pancang bagi bumi agar tidak mengalami goncangan. Allah berfirman: “Dan Dia menancapkan (pancang/pasak) di bumi supaya tidak goncang bersama kamu …”. (QS. An-Nahl 16:15)

Fungsi Gunung

Pada tahun 1912 teori mengenai pergeseran lempeng benua telah di kemukakan oleh Alfret Weneger. Ketika lempeng ini bergerak terjadi gesekan keras yang kemudian menyebabkan gempa, maka bila tidak ada peredam dari pengaruh pergerakan lempeng ini gempa bumi akan terjadi. Salah satu benda alam yang dapat berfungsi sebagai peredam di atas adalah gunung. Pengaruh gunung sebagai peredam dari efek gerak lempeng bumi ini dikenal dengan sebutan isostasi. Informasi ilmiah diatas sesuai dengan apa Al-Quran ini. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُون

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Anbiya 31).

Kalau kita mencari arti kata رسا dalam kamus bahasa arab, maka kita akan temukan bahwa rasaa berarti ثبت (tetap/kokoh/tidak goyah), dan ini sesuai dengan salah satu fungsi gunung, yaitu mengokohkan lempeng bumi agar tidak goncang.

Gunung Bergerak

Para ilmuwan sepakat bahwa gunung tidak diam seperti yang kita anggap, melainkan bergerak, dan ini telah diisyaratkan oleh Al-Quran dalam sebuah ayat. Allah berfirman:

 وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ * صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ * إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kebanyakan para ahli tafsir memahami bahwa ayat ini berbicara tentang bergeraknya gunung pada hari kiamat, namun pada masa ini syaikh Sya’rawi memahami dengan pemahaman yang berbeda, beliau berkata “… kamu sangka dia tetap pada tempatnya. Pada hari kiamat tak ada prasangka, semua yang kita lihat saat itu adalah kebenaran (kejadian yang yakin), oleh karena itu ayat ini berbicara tentang gerak gunung saat ini”. Syaikh Sya’rawi melanjutkan dalam kitab tafsirnya “Jika kita pergi ke angkasa, akan terlihat bumi berputar dan gunung-gunung ikut berputar juga, dan ini isyarat bahwa bumi berotasi”. Kenyatannya ayat ini tidak berbicara tentang gerak bumi secara keseluruhan, sebab, jika demikian bukan hanya gunung yang bergerak, tapi juga semua benda yang ada di bumi ikut bergerak, manusia, pohon laut dan sebagainya.

Penemuan Terbaru Tentang Gerak Gunung

Ilmuwan Jerman menemukan sebuah fenomena baru akan pergerakan gunung ini bahwasannya Benua Eropa dan Benua Amerika mengalami pergeseran yang membuat keduanya saling berjauhan 18 milimeter per tahun. Ketika para ilmuwan mengukur pergeseran jarak ini dengan sangat teliti mereka mendapati bahwasannya ada pergerakan pada lempeng benua eropa, dan gerak lain pada lempeng benua Amerika, artinya, gunung yang dibawa oleh lempeng ini ikut bergerak juga. Para Ilmuwan memastikan bahwa gunung melakukan pergerakan sangat halus ke semua arah yang kecepatannya kurang dari millimeter per bulan, karena itulah gerak gunung sulit diketahui, bahkan kita melihatnya diam tidak bergerak, padahal sebenarnya bergerak.

Tujuan Dari Fenomena Gerak Gunung Ini

Sekarang patut kita bertanya kepada diri sendiri: “Kenapa Allah menceritakan fakta alam semesta yang tersembunyi ini kepada kita?”, apakah semata-mata agar kita menjadi seseorang yang cinta pengetahuan? Atau menjadi seorang peneliti? Yang tepat adalah Allah telah menyatakan di akhir ayat yang menjelaskan tentang pergerakan gunung. Allah berfirman: “…Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Jika pergerakan gunung yang hanya dapat diketahui setelah diteliti peralatan canggih saja Allah mengetahuinya, maka bagaimana dengan kita? Gerak amal perbuatan kita lebih nampak ketimbang gunung yang sangat tersembunyi. Jadi, ingatlah, sebagaimana Allah mengetahui detail gerakan gunung ini, maka sudah barang tentu Allah tahu gerak manusia yang kasat mata. Wallahu’alam

Dari berbagai sumber

Indah Banget Ya Kisah Cinta Mereka Berdua^^


Cinta di hatiSepasang suami isteri pergi ke sebuah kebun binatang. Kemudian mereka mendapati seekor kera jantan sedang bermain dengan isterinya kera betina.

Si isteri (manusia) berkata "Duh indah banget ya kisah cinta mereka berdua"

Ketika keduanya pergi untuk melihat singa di kandangnya, keduanya mendapati dua ekor singa betina dan jantan agak berjauhan dan diam satu sama lain.

Si isteri (manusia) berkata "Ih, enggak banget deh kisah cinta mereka berdua"

Si suami (manusia) berkata kepada isterinya "Coba deh lempar botol kaca ini ke singa betina itu, Sayang!".

Apa yang terjadi? ketika si isteri (manusia) melempar kaca itu ke singa betina, singa jantan pun spontan langsung berdiri dan mengaum demi menjaga si betina isterinya.

Ketika hal serupa dilakukan kepada monyet, si monyet jantan malah lari kabur demi menyelamatkan dirinya dari bahaya lemparan botol kaca dan membiarkan isterinya begitu saja.

Suami (manusia) pun berkata kepada isterinya "Jangan terkecoh dengan apa yang manusia tampakan kepadamu, karena ada manusia yang memermainkan perasaanmu dengan keseakanan yang menipu. Ada juga manusia yang menyimpan perasaan cinta dalam hati mereka." 

(Fatimah)

Mengapa Yahudi Pintar dan Genius? (Penting nih)

Mari kita mulai dari masa kehamilan:
Begitu wanita Israel yang mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak, maka langsung sang ibu tersebut sering bernyanyi dan bermain piano dan juga membeli buku matematika.

Bermain piano dan bernyanyi bertujuan untuk mempengaruhi suasana hati bawaan si bayi tersebut ketika lahir. Dengan bernyanyi dan bermain piano,maka sang ibu akan merasakan ketenangan.

Diharapkan sang bayi akan memiliki karakter bawaan yang tenang dan berfikir matang ketika menghadapi masalah hidup nantinya.

Sedangkan mengerjakan soal matematika bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan otak bayi yang ada dalam kandungannya.

Agar anak mereka terkahir dengan otak jenius.

Dan para ibu Yahudi yang tengah mengandung, terus menerus mengerjakan soal matematika yang ada sampai tiba saat melahirkan. Kadang mereka mengerjakan bersama suaminya dan bertanya kepada saudara-saudaranya bila ada soal yang terasa sulit.

Artinya…mereka tidak melatih kecerdasan otak anak mereka dari kecil, dari balita, dari umur 3 bulan, tapi dari sejak di dalam kandungan, Sebuah perencanaan yang dalam sekali bukan?!.

Cara makan keluarga Yahudi :


Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala (sekali lagi, tanpa kepala!) bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Sama seperti kebiasaan orang Jepang yang jenius juga dalam kerajinan memakan daging ikan ), Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Perinsip : “ kalau sudah makan ikan, tidak boleh ada daging yang dimakan bersamaan “ ternyata sama dengan perinsip makannya Rasullullah S.A.W, manusia terjarang sakit sedunia )

Mereka juga akan makan buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.

Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah. Ternyata makan buah dahulu baru nasi, akan menyebabkan buah busuk. Karena proses pencernaan makanan di dalam perut kita itu memakan waktu yang lama. Sehingga akan membuat buah mengalami antrian yang panjang sampai akhirnya dia keburu busuk duluan.( Pernah membiarkan apel yang sudah terkelupas khan ? lama-lama akan kuning dan bisa membusuk khan ? itu hanya didiamkan dan terkena udara loh…bagaimana kalau dicampur olahan makanan di dalam perut kita ? Sudah pasti busuk duluan sebelum dapat diproses. Jadi istilah “makan buah setelah makan nasi” sebagai pencuci mulut itu SALAH. Makan buah sebelum makan nasilah yang benar, bukan setelah makan nasi. Percuma. )

Kacang Badam atau Kacang Almond:


Kacang Badam = Kacang Almond, atau Buah Almond, mirip dengan Buah Persik dan Aprikot, hanya saja daging buahnya dibuang saat dipanen, sehingga hanya menyisakan bijinya, karena itu disebut sebagai kacang.

anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata-rata mereka memahami tiga bahasa: Hebrew, Arab dan Inggris. ( Ternyata mempelajari sesuatu yang baru itu menyeimbangkan kedua belah otak kita. Contohnya ya seperti mempelajari bahasa yang berbeda – beda ) Sejak kecil pula mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Musik yang mereka dengarkan ya musik yang bisa menambahkan kecerdasan otak mereka. Yaitu musik yang lagak-lagak bethoven gitu deh.
( Ternyata sesuai dengan yang dikatakan Adi W Gunawan di buku Born To BE Genius )

Masa kanak-kanak:



Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!” katanya. Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi, olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.
anak-anak yang jago dalam hal olahraga, biasanya mereka mempunyai kemampuan mengambil keputusan yang cepat, karena otak mereka terlatih bergerak cepat, terlepas dari bagus atau tidaknya prestasi mereka disekolah.

Sekolah Tinggi di Yahudi:


Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Dr Stephen Carr Leon sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Di akhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Dan mereka harus mempraktekannya.

Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!
Anda terperanjat?
Itulah kenyataannya.

Merokok bagi mereka adalah sesuatu yang tabu.
Bila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. Menurut ilmuwan Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan dari saintis gen dan DNA Israel.

Kesimpulan, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.
Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.

Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.

Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.

Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.
Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia . Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.

Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.
Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.

Penyakit Genetika Membuat Bangsa Yahudi Cerdas


PENERIMA penghargaan hadiah Nobel sudah pasti bukan orang sembarangan. Apalagi untuk kategori sains, dibutuhkan kegeniusan untuk meraih hadiah bergengsi ini.

Menariknya, dari sejumlah penerima Nobel yang ada, kelompok masyarakat Yahudi yang mendominasi. Wajar jika kaum ini sering disebut sebagai kelompok masyarakat genius. Lantas, apa yang menyebabkan masyarakat Yahudi begitu cerdas? Ada anggapan yang mengatakan bahwa kecerdasan Yahudi sudah dilatih sebelum mereka lahir. Para ibu bangsa Yahudi yang sedang hamil memiliki pemahaman bahwa anak yang dikandungnya harus sudah diberi pelajaran meski hanya lewat pendengaran.

Karena itu, tidak jarang kaum ibu bangsa Yahudi yang sedang hamil sering mendengarkan musik klasik. Alasannya, musik klasik bisa memengaruhi perkembangan otak si bayi. Sang ibu bangsa Yahudi yang sedang mengandung akan lebih sering bernyanyi dan bermain piano. Selain itu, si ibu dan suaminya juga akan banyak membeli buku matematika dan mereka menyelesaikan soal secara bersama. Si ibu akan terus mengerjakan soal-soal matematika hingga sampai waktu melahirkan.

Di samping itu, si ibu suka memakan kacang badam dan kurma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan kacang badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Dalam pandangan bangsa Yahudi, daging ikan sangat baik untuk perkembangan otak. Sementara kepala ikan mengandung bahan kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan pertumbuhan otak anak di dalam kandungan.

Karena itu, ada semacam ”ritual” dalam bangsa Yahudi bahwa ada kewajiban bagi ibu hamil untuk mengonsumsi pil minyak ikan. Namun, sebuah penelitian menunjukkan fakta lain. Kepintaran bangsa Yahudi lebih disebabkan penyakit genetika yang disebut ashkenazi. Salah satu penyakit turunan yang berhubungan dengan otak ini justru membuat mereka memiliki skor intelligent quotient (IQ) tertinggi di dunia. Ashkenazi selain membuat cerdas juga sangat mematikan.

Setidaknya itulah yang diungkapkan dalam makalah Prefesor Gregory Cochran dan Henry Harpending yang diterbitkan pada 2005. Cochran selalu penasaran mengapa bangsa Yahudi sangat pintar. Dia menyangsikan teori seleksi alam yang menyebabkan bangsa Yahudi menjadi pintar. Cochran menelusuri sejumlah jurnal ilmiah dan dia mengungkapkan teori baru kepada Harpending, profesor kehormatan di Universitas Utah, AS, yang sebelumnya sudah melakukan penelitian.

Harpending juga anggota National Academy of Sciences. Cochran menilai gen yang rusaklah penyebab orang Yahudi menjadi lebih pintar.Kesimpulan Cochran ini membuka perdebatan baru menyangkut hubungan antara DNA dengan IQ. Lalu, Cochran (psikolog) dan Harpending (peneliti pendidikan) menyebut ashkenazi yang menyebabkan naiknya kekuatan otak. Dari hasil penelitian yang dipublikasikan pada awal 2009 oleh Departemen Antropologi Universitas Utah, AS, itu diungkapkan adanya kontroversi tentang evolusi manusia.

Kedua ilmuwan itu mendapati rata-rata IQ orang Yahudi adalah 107,5 hingga 115. Angka itu di atas rata-rata orang Eropa yang hanya mencapai 100. Setidaknya, meski berbeda 7 nilai, sudah cukup untuk membedakan tingkat kegeniusan. Karena penyakit genetika itulah, di kalangan bangsa Yahudi ada kelompok yang disebut Yahudi Ashkenazi. Ini merupakan salah satu kelompok etnik cerdas di dunia.

Menurut penelitian mereka, terdapat data yang menyebutkan IQ yang luar biasa tinggi terdapat pada Yahudi Ashkenazi (Yahudi keturunan Eropa). Rata-rata IQ orang Eropa adalah 100, sementara Yahudi keturunan Eropa rata-rata menghasilkan skor IQ berkisar 107,5–115. Hal ini memungkinkan Yahudi Ashkenazi mempunyai kemungkinan enam kali lipat untuk menjadi seorang genius daripada orang Eropa non-Yahudi.

Kedua ilmuwan itu menyatakan hasil inteligensia Yahudi Ashkenazi berasal dari tiga faktor. Pertama, akibat pengaruh tingkat historis perkimpoian yang rendah. Kedua, disebabkan penganiayaan sosial dan politik abad pertengahan yang memaksa Yahudi Ashkenazi keluar dari pekerjaan umum ke pekerjaan berbasis kecerdasan sehingga menghasilkan tingkat lebih tinggi untuk orang Yahudi.

Ketiga, akibat kecenderungan menderita penyakit yang memengaruhi pengolahan sphingolipids, molekul lemak yang mengirimkan sinyal saraf. Yahudi Ashkenazi secara tidak proporsional terkena beberapa gangguan mematikan, termasuk tay-sachs, sebuah penyakit yang melemahkan dan menimbulkan gangguan neurologis fatal dengan harapan hidup 4 tahun. Selain itu, ada penyakit otak canavan dengan harapan hidup 5 tahun dan penyakit gaucher di mana lemak menumpuk di limpa, hati, sumsum tulang, paru-paru, dan bahkan otak.

Ada juga penyakit niemann-pick tipe Adi mana bayi mengakumulasi jaringan lemak fatal dalam berbagai organ. Hal ini akan menyebabkan kerusakan otak yang mendalam dan kematian sebelum umur 2 tahun. Namun, kedua ilmuwan itu yakin bahwa berbagai penyakit mematikan yang diidap bangsa Yahudi justru memiliki keuntungan heterozigot (suatu mekanisme yang mempertahankan keragaman kumpulan gen eukariotis dengan cara memberikan keberhasilan reproduksi).

Artinya, keuntungan ini memiliki dua salinan dari mutasi gen. Di di satu sisi menyebabkan masalah kesehatan yang serius, tetapi di sisi lain memiliki satu salinan yang menyebabkan efek kesehatan positif. Meski banyak ”penyakit turunan” yang fatal yang dialami bangsa Yahudi, mereka terus mewariskan inteligensia yang tinggi.

Cochran memberikan penegasan bahwa kecerdasan Yahudi Ashkenazi akan terus menjadi kontroversi karena ketidaknyamanan masyarakat dengan label satu kelompok etnik lebih cerdas daripada yang lain. Padahal, masyarakat bisa menerima bahwa beberapa kelompok akan lebih tinggi, pendek, atau lebih cepat. Hasil penelitian Cochran dan Harpending yang berjudul ”Natural History of Ashkenazi Intelligence” juga menyebutkan, populasi orang Yahudi di AS hanya sekira 3 persen dari total jumlah masyarakat AS.

Kendati begitu, mereka berhasil meraih 27 persen dari hadiah Nobel di bidang ilmu pengetahuan sejak 1950. Hal yang sama juga terjadi pada penghargaan ACM Turing Awards di mana bangsa Yahudi berhasil meraih 25 persen penghargaan yang diberikan Association for Computing Machinery karena kontribusi yang bersifat teknis pada dunia ilmu komputer.

Selain itu, tidak sedikit bangsa Yahudi yang menyandang gelar sebagai juara dunia catur. Sejumlah nama dari bangsa Yahudi yang telah meraih Nobel di antaranya Bernard Katz karena teori transmisi neuromuskuler, Andrew Schally yang meraih Nobel dalam endokrinologi. Ada juga George Wald (Nobel untuk melanjutkan pemahaman kita tentang mata manusia) dan Stanley Cohen (Nobel dalam embriologi).

AYOO JANGAN MAU KALAH DENGAN PARA YAHUDI ! ! !, MENGIKUTI POLA MAKAN DAN SEBAGIAN CARA HIDUP MEREKA BUKAN BERARTI MENDUKUNG DAN MEMUJA AGAMA MEREKA, TAPI MENGIKUTI POLA KEHIDUPAN NABI YANG “JANGAN ” SAMPAI DI “KLAIM” SEBAGAI CARA HIDUP MEREKA,, BE CLEVER!

Sumber: sini

Gender Equity in Islam

Jamal A. Badawi, Ph.D.
World Assembly of Muslim Youth - WAMY Studies on Islam

Content
Introduction & Methodology
The Spiritual Aspect
The Economic Aspect
The Social Aspect
First: As a Daughter
Second: As a Wife
Question of Polygyny (Polygamy)
Third: As a Mother
Fourth: As a Sister in Faith (Generally)
Fifth: Issue of Modesty and Social Interaction
The Legal/Political Aspect
Conclusion
Endnotes
Bibliography


I. Introduction & Methodology
Gender Equity in Islam Emansipasi Dalam IslamWhen dealing with the Islamic perspective of any topic, there should be a clear distinction between the normative teachings of Islam and the diverse cultural practices among Muslims, which may or may not be consistent with them. The focus of this paper is the normative teachings of Islam as the criteria to judge Muslim practices and evaluate their compliance with Islam. In identifying what is "Islamic" it is necessary to make a distinction between the primary sources of Islam (the Qur'an and the Sunnah) and legal opinions of scholars on specific issues, which may vary and be influenced by their times, circumstances, and cultures. Such opinions and verdicts do not enjoy the infallibility accorded to the primary and revelatory sources. Furthermore, interpretation of the primary sources should consider, among other things:

(a) The context of any text in the Qur'an and the Sunnah. This includes the general context of Islam, its teachings, its world view, and the context of the surah and section thereof.
(b) The occasion of the revelation, which may shed light on its meanings.
(c) The role of the Sunnah in explaining and defining the meaning of the Qur'anic text.
This paper is a brief review of the position and role of woman in society from an Islamic perspective. The topic is divided into spiritual, economic, social, and political aspects.

II. The Spiritual Aspect
1. According to the Qur'an, men and women have the same spiritual human nature:
O mankind: Reverence your Guardian Lord Who created you from a single person created of like nature his mate and from them twain scattered (like seeds) countless men and women; reverence Allah through Whom you demand your mutual (rights) and (reverence) the wombs (that bore you): for Allah ever watches over you. (Qur'an 4:1)

It is He who created you from a single person and made his mate of like nature in order that he might dwell with her (in love). When they are united she bears a light burden and carries it about (unnoticed). When she grows heavy they both pray to Allah their Lord (saying): "If You give us a goodly child we vow we shall (ever) be grateful." (Qur'an 7:189)

(He is) the Creator of the heavens and the earth: He has made for you pairs from among yourselves and pairs among cattle: by this means does He multiply you: there is nothing whatever like unto Him and Her is the One that hears and sees (all things.) (Qur'an 42:11)

2. Both genders are recipients of the "divine breath" since they are created with the same human and spiritual nature (nafsin-waahidah):
But He fashioned him in due proportion and breathed into him something of His spirit. And He gave you (the faculties of) hearing and sight and feeling (and understanding): little thanks to you give (Qur'an 15:29)

3. Both genders are dignified and are trustees of Allah on earth.
We have honored the children of Adam, provided them with transport on land and sea; given them for sustenance things good and pure; and conferred on them special favors above a great part of Our Creation. (Qur'an 17:70)
Behold your Lord said to the angels: "I will create a vicegerent on earth." They said "Will you place therein one who will make mischief therein and shed blood? Whilst we do celebrate Your praises and glorify Your holy (name)?" He said: "I know what you do not." (Qur'an 2:30)

4. According to the Qur'an, woman is not blamed for the "fall of man." Pregnancy and childbirth are not seen as punishments for "eating from the for bidden tree." On the contrary, the Qur'an considers them to be grounds for love and respect due to mothers.

In narrating the story of Adam and Eve, the Qur'an frequently refers to both of them, never singling out Eve for the blame:

O Adam! Dwell you and your wife in the garden and enjoy (its good things) as you [both] wish: but approach not this tree or you [both] run into harm and transgression. Then began Satan to whisper suggestions to them bringing openly before their minds all their shame that was hidden from them (before): he said "Your Lord only forbade you this tree lest you [both] should become angels or such beings as live for ever." And he swore to them both that he was their sincere adviser. So by deceit he brought about their fall: when they tasted of the tree their shame became manifest to them and they began to sew together the leaves of the garden over their bodies. And their Lord called unto them: "Did I not forbid you that tree and tell you that Satan was an avowed enemy unto you?" They said: "Our Lord! We have wronged our own souls: if you forgive us not and bestow not upon us Your mercy we shall certainly be lost." (Allah) said: "Get you [both] down with enmity between yourselves. On earth will be your dwelling place and your means of livelihood for a time." He said: "Therein shall you [both] live and therein shall you [both] die; and from it shall you [both] be taken out (at last)." O you children of Adam! We have bestowed raiment upon you to cover your shame as well as to be an adornment to you but the raiment of righteousness that is the best. Such are among the signs of Allah that they may receive admonition! O you children of Adam! Let not Satan seduce you in the same manner as he got your parents out of the garden stripping them of their raiment to expose their shame: for he and his tribe watch you from a position where you cannot see them: We made the evil ones friends (only) to those without faith. (Qur'an 7:19 27)

On the question of pregnancy and childbirth, the Qur'an states:
And We have enjoined on the person (to be good) to his/her parents: in travail upon travail did his/her mother bear his/her and in years twain was his/her weaning: (hear the command) "Show gratitude to Me and to your parents: to Me is (your final) Goal. (Qur'an 31:14)

We have enjoined on the person kindness to his/her parents: in pain did his/her mother bear him/her and in paid did she give him/her birth. The carrying of the (child) to his/her weaning is ( a period of) thirty months. At length when he/she reaches the age of full strength and attains forty years he/she says "O my Lord! Grant me that I may be grateful for Your favor which You have bestowed upon me and upon both my parents and that I may work righteousness such as You may approve; and be gracious to me in my issue.Truly have I turned to You and truly do I bow (to You) in Islam [submission]." (Qur'an 46:15)

5. Men and women have the same religious and moral duties and responsibilities. They both face the consequences of their deeds:

And their Lord has accepted of them and answered them: "Never will I suffer to be los the work of any of you be it male or female: you are members of one another ..." (Qur'an 3:195)

If any do deeds of righteousness be they male or female and have faith they will enter paradise and not the least injustice will be done to them. (Qur'an 4:124)

For Muslim men and women and for believing men and women, for devout men and women, for true men and women, for men and women who are patient and constant, for men and women who humble themselves, for men and women who give in charity, for men and women who fast (and deny themselves), for men and women who guard their chastity, and for men and women who engage much in Allah's praise, for them has Allah prepared forgiveness and great reward. (Qur'an 33:35)

One Day shall you see the believing men and the believing women how their Light runs forward before them and by their right hands: (their greeting will be): "Good news for you this Day! Gardens beneath which flow rivers! To dwell therein for ever! This is indeed the highest Achievement!" (Qur'an 57:12)

6. Nowhere dow the Qur'an state that one gender is superior to the other. Some mistakenly translate "qiwamah" or responsibility for the family as superiority. The Qur'an makes it clear that the sole basis for superiority of any person over another is piety and righteousness not gender, color, or nationality:

O mankind! We created you from a single (pair) of a male and a female and made you into nations and tribes that you may know each other. Verily the most honored of you in the sight of Allah is (one who is) the most righteous of you. And Allah has full knowledge and is well acquainted (with all things). (Qur'an 49:13)

7. The absence of women as prophets or "Messengers of Allah" in prophetic history is due to the demands and physical suffering associated with the role of messengers and prophets and not because of any spiritual inferiority.

III. The Economic Aspect

1. The Islamic Shariiah recognizes the full property rights of women before and after marriage. A married woman may keep her maiden name.

2. Greater financial security is assured for women. They are entitled to receive marital gifts, to keep present and future properties and income for their own security. No married woman is required to spend a penny from her property and income on the household. She is entitled to full financial support during marriage and during the waiting period ('iddah) in case of divorce. She is also entitled to child support. Generally, a Muslim woman is guaranteed support in all stages of her life, as a daughter, wife, mother, or sister. These additional advantages of women over men are somewhat balanced by the provisions of the inheritance which allow the male, in most cases, to inherit twice as much as the female. This means that the male inherits more but is responsible financially for other females: daughters, wives, mother, and sister, while the female (i.e., a wife) inherits less but can keep it all for investment and financial security without any legal obligation so spend any part of it even for her own sustenance (food, clothing, housing, medication, etc.).

IV. The Social Aspect

First: As a Daughter

1. The Qur'an effectively ended the cruel pre Islamic practice of female infanticide (wa'd):
When the female (infant) buried alive is questioned for what crime she was killed. (Qur'an 81 89)

2. The Qur'an went further to rebuke the unwelcoming attitudes among some parents upon hearing the news of the birth of a baby girl, instead of a baby boy:

When news is brought to one of them of (the birth of) a female (child) his face darkens and he is filled with inward grief! With shame does he hide himself from his people because of the bad news he has had! Shall he retain her on (sufferance and) contempt or bury her in the dust? Ah! what an evil (choice) they decide on! (Qur'an 16:58 59)

3. Parents are duty bound to support and show kindness and justice to their daughters. Prophet Muhammad said:
"Whosoever has a daughter and he does not bury her alive, does not insult her, and does not favor his son over her, Allah will enter him into Paradise." [Ahmad]

"Whosoever supports two daughters til they mature, he and I will come in the day of judgment as this (and he pointed with his two fingers held together)." [Ahmad]

4. Education is not only a right but also a responsibility of all males and females. Prophet Muhammad said:
"Seeking knowledge is mandatory for every Muslim ("Muslim" is used here in the generic meaning which includes both males and females).

Second: As a Wife

1. Marriage in Islam is based on mutual peace, love, and compassion, not just the satisfaction of man's needs:

And among His Signs is that He created for you mates from among yourselves that you may well in tranquillity with them and He has put live and mercy between your (hearts); verily in that are signs for those who reflect. (Qur'an 30:21)

(He is) the Creator of the heavens and the earth: He has made for you pairs from among yourselves and pairs among cattle: by this means does He multiply you: there is nothing whatever like unto Him and He is the One that hears and sees (all things). (Qur'an 42:11)

2. The female has the right to accept or reject marriage proposals. Her consent is prerequisite to the validity of the marital contract according to the Prophet's teaching. It follows that if by "arranged marriage" is meant marrying the girl without her consent, then such a marriage is nullifiable is she so wished.

"Ibn Abbas reported that a girl came to the Messenger of God, Muhammad, and she reported that her father had forced her to marry without her consent. The Messenger of God gave her the choice ... (between accepting the marriage or invalidating it)." (Ahmad, Hadeeth no. 2469). In another version, the girl said:

"Actually I accept this marriage but I wanted to let women know that parents have no right to force a husband on them." [Ibn Majah] 3. The husband is responsible for the maintenance, protection, and overall headship of the family (qiwamah) within the framework of consultation and kindness. The mutual dependency and complementary of the roles of males and females does not mean "subservience" by either party to the other. Prophet Muhammad helped in household chores in spite of his busy schedule.

The mothers shall give suck to their offspring for two whole years if the father desires to complete the term. But he shall bear the cost of their food and clothing on equitable terms. No soul shall have a burden laid on it greater than it can bear. No mother shall be treated unfairly on account of her child nor father on account of his child. An heir shall be chargeable in the same way if they both decide on weaning by mutual consent and after due consultation there is no blame on them. If you decide on a foster mother for your offspring there is no blame on you provided you pay (the mother) what you offered on equitable terms. But fear Allah and know that Allah sees well what you do. (Qur'an 2:233)

The Qur'an urges husbands to be kind and considerate to heir wives even if they do not like them.
O you who believe! You are forbidden to inherit women against their will. Nor should you treat them with harshness that you may take away part of the marital gift you have given them except where they have been guilty of open lewdness; on the contrary live with them on a footing of kindness and equity. If you take a dislike to them it may be that you dislike a thing and Allah brings about though it a great deal of good. (Qur'an 4:19)

Prophet Muhammad taught:
" I command you to be kind to women ..."
"The best of you is the best to his family (wife) ..."
Marital disputes are to be handled privately between the parties whenever possible, in steps (without excesses or cruelty). If disputes are not resolved then family mediation can be resorted to.
Divorce is seen as the last resort, which is permissible but not encouraged. Under no circumstances does the Qur'an encourage, allow or condone family violence or physical abuse and cruelty. The maximum allowed in extreme cases is a gentle tap that does not even leave a mark on the body while saving the marriage from collapsing.

3. Forms of marriage dissolution include mutual agreement, the husband's initiative, the wife's initiative (if part of her marital contract, court decision on the wife's initiative (for a cause), and the wife's initiative without a "cause" provided that she returns the marital gift to her husband (khul' [divestiture]).

4. Priority for custody of young children (up to the age of about seven) is given to the mother. A child later chooses between his mother and father (for custody purposes). Custody questions are to be settled in a manner that balances the interests of both parents and well being of the child

Question of Polygyny (Polygamy)

1. One of the common myths is to associate polygyny with Islam as if it were introduced by Islam or is the norm according to its teachings. While no text in the Qur'an or Sunnah states that either monogamy or polygyny is the norm, demographic data indicates that monogamy is the norm and polygyny is the exception. In almost all countries and on the global level the numbers of men and women are almost even, with women's numbers slightly more than men.

As such, it is a practical impossibility to regard polygyny as the norm since it assumes a demographic structure of at least two thirds females, and one third males (or 80 percent females and 20 percent males if four wives per male is the norm!). No Islamic "norm" is based on an impossible assumption.

2. Like many peoples and religions, however, Islam did not out law polygyny but regulated it and restricted it. It is neither required nor encouraged, but simply permitted and not outlawed. Edward Westermarck gives numerous examples of the sanctioning of polygyny among Jews, Christians, and others.

3. The only passage in the Qur'an (4:3) which explicitly mentioned polygyny and restricted its practice in terms of the number of wives permitted and the requirement of justice between them was revealed after the Battle of Uhud in which dozens of Muslims were martyred leaving behind widows and orphans. This seems to indicate that the intent of its continued permissibility is to deal with individual and collective contingencies that may arise from time to time (i.e., imbalances between the number of males and females created by wars). This provides a moral, practical, and humane solution to the problems of widows and orphans who are likely to be more vulnerable in the absence of a husband/father figure to look after their needs: financial, companions, proper rearing, and other needs.

If you fear that you shall not be able to deal justly with the orphans marry women of your choice two or three or four; but if you fear that you shall not be able to deal justly (with them) then only one ... (Qur'an 4:3)

4. All parties involved have options: to reject marriage proposals as in the case of a proposed second wife or to seek divorce or khul' (divestiture) as in the case of a present wife who cannot accept to live with a polygynous husband.
While the Qur'an allowed polygyny, it did not allow polyandry (multiple husbands of the same woman). Anthropologically speaking, polyandry is quite rare. Its practice raises thorny problems related to the lineal identity of children, and incompatibility of polyandry with feminine nature.

Third: As a Mother

1. Kindness to parents (especially mothers) is next to worship of Allah:
Your Lord has decreed that you worship none but Him and that you be kind to parents. Whether one or both of them attain old age in you life say not to them a word of contempt nor repel them but address them in terms of honor. (Qur'an 17:23)

And We have enjoined on the human (to be good) to his/her parents: in travail upon travail did his/her mother bear him/her and in years twain was his/her waning: (hear the command) "Show gratitude to Me and to your parents: to Me is (your final) destiny." (Qur'an 31:14)

2. Mothers are accorded a special place of honor in Hadeeth too:
A man came to the Prophet Muhammad asking: O Messenger of Allah, who among the people is the most worthy of my good companionship? The Prophet said, your mother. The man said then who is next: the Prophet said, Your mother. The man further asked, Then who is next? Only then did the Prophet say, Your father. (al Bukhari)

Fourth: As a Sister in Faith (Generally)

1. According to the Prophet Muhammad's saying:
"Women are but sisters (or the other half) of men (shaqa'iq).

2. Prophet Muhammad taught kindness, care, and respect of women in general:
"I commend you to be kind to women"

Fifth: Issue of Modesty and Social Interaction

1. There exists, among Muslims a big gap between the ideal of the real. Cultural practices on both extremes do exist. Some Muslims emulate non Islamic cultures and adopt the modes of dress, unrestricted mixing and behavior resulting in corrupting influences of Muslims and endangering the family's integrity and strength. On the other hand, in some Muslim cultural undue and excessive restrictions is not seclusion are believed to be the ideal. Both extremes seem to contradict the normative teachings of Islam and are not consistent with the virtuous yet participative nature of the society at the time of the Prophet Muhammad.

2. Parameters of proper modesty for males and females (dress and behavior) are based on revelatory sources (the Qur'an and authentic Sunnah) and as such are seen by believing men and women as divinely based guidelines with legitimate aims, and divine wisdom behind them. They are not male imposed or socially imposed restrictions.

3. The notion of near total seclusion of women is alien to the prophetic period. Interpretation problems in justifying seclusion reflect, in part, cultural influences and circumstances in different Muslim countries.


1. Both genders are entitled to equality before the law and courts of law. Justice is genderless.
Most references to testimony (witness) in the Qur'an do not make any reference to gender. Some references fully equate the testimony of males and female.

And for those who launch a charge against their spouses and have (in support) no evidence but their own their solitary evidence (can be received) if they bear witness four times (with an oath) by Allah that they are solemnly telling the truth; And the fifth (oath) (should be) that they solemnly invoke the curse of Allah on themselves if they tell a life. But it would avert the punishment from the wife is she bears witness four times (with an oath) by Allah that (her husband) is telling a lie; And the fifth (oath) should be that she solemnly invokes the wrath of Allah on herself is (her accuser) is telling the truth. (Qur'an 24:69)
One reference in the Qur'an distinguishes between the witness of a male and a female. It is useful to quote this reference and explain it in its own context and in the context of other references to testimony in the Qur'an.

O you who believe! When you deal with each other in transactions involving future obligations in a fixed period of time reduce them to writing. Let a scribe write down faithfully as between the parties: let not the scribe refuse to write as Allah has taught him so let him write. Let him who incurs the liability dictate but let him fear his Lord Allah and not diminish aught of what he owes. If the party liable is mentally deficient or weak or unable himself to dictate let his guardian dictate faithfully. And get two witnesses out of your own men.

and if there are not two men then a man and two women such as you choose for witnesses so that if one of them errs the other can remind her. The witnesses should not refuse when they are called on (for evidence). Disdain not to reduce to writing (your contract) for a future period whether it be small or big: it is just in the sight of Allah more suitable as evidence and more convenient to prevent doubts among yourselves; but if it be a transaction which you carry out on the spot among yourselves there is no blame on you if you reduce it not to writing. But take witnesses whenever you make a commercial contract; and let neither scribe nor witness suffer harm. If you do (such harm) it would be wickedness in you. So fear Allah; for it is Allah that teaches you. And Allah is well acquainted with all things. (Qur'an 2:282)

A few comments on this text are essential in order to prevent common misinterpretations:
a. It cannot be used as an argument that there is a general rule in the Qur'an that the worth of a female's witness is only half the male's. This presumed "rule" is voided by the earlier reference (24:69) which explicitly equates the testimony of both genders in the issue at hand.

b. The context of this passage (ayah) relates to the testimony on financial transactions which are often complex and laden with business jargon. The passage does not make a blanket generalization which would otherwise contradict 24:69 cited earlier.

c. The reason for variations in the number of male and female witnesses required is given in the same passage. No reference was made to the inferiority or superiority of one gender's witness or the other's. The only reason given is to corroborate the female's witness and prevent unintended errors in the perception of the business deal. The Arabic term used in this passage (tadhilla) means literally "loses the way," "gets confused or errs." But are females the only gender that may err and need corroboration of their testimony.

Definitely not, and this is why the general rule of testimony in Islamic law is to have two witnesses even if they are both males. This leaves us with only one reasonable interpretation that in an ideal Islamic society as envisioned by Islamic teachings the female members will give priority to their feminine functions as wives, mothers, and pioneers of charitable works. This emphasis, while making them more experienced in the inner function of the family and social life, may not give them enough exposure and experience to business transactions and terminology, as such a typical Muslim woman in a truly Islamic society will not normally be present when business dealings are negotiated and if may present may not fully understand the dealings. In such a case, corroboration by two women witnesses helps them remind one another and as such give an accurate account of what happened.

d. It is useful to remember that it is the duty of a fair judge, in a particular case, to evaluate the credibility, knowledge and experience of any witness and the specific circumstances of the case at hand.

2. The general rule in social and political life is participation and collaboration of males and female in public affairs:
The believers, men and women, are protectors one of another; they enjoin what is just and forbid what is evil: they observe regular prayers, practice regular charity, and obey Allah and His apostle. On them will Allah pour His mercy: for Allah is Exalted in power, Wise. (Qur'an 9:71)

3. Now there is sufficient historical evidence of participation by Muslim women in the choice of rulers, in public issues, in lawmaking, in administrative positions, in scholarship and teaching, and even in the battlefield. Such involvement in social and political affairs was done without losing sight of the complementary priorities of both genders and without violating Islamic guidelines of modesty and virtue.

4. There is no text in the Qur'an or the Sunnah that precludes women from any position of leadership, except in leading prayer due to the format of prayer as explained earlier and the headship of state (based on the common and reasonable interpretation of Hadeeth).

The head of state in Islam is not a ceremonial head. He leads public prayers in some occasions, constantly travels and negotiates with officials of other states (who are mostly males). He may be involved in confidential meetings with them. Such heavy involvement and its necessary format may not be consistent with Islamic guidelines related to the interaction between the genders and the priority of feminine functions and their value to society. Furthermore, the conceptual and philosophical background of the critics of this limited exclusion is that of individualism, ego satisfaction, and the rejection of the validity of divine guidance in favor of other man-made philosophies, values, or "ism." The ultimate objective of a Muslim man or woman is to selflessly serve Allah and the ummah in whatever appropriate capacity.

Conclusion:
1. Textual injunctions on gender equity and the prophetic model are sometimes disregarded by some if not most Muslims individually and collectively. Revision of practices (not divine injunctions) is needed. It is not the revelatory Qur'an and the Sunnah that need any editing or revision. What needs to be reexamined are fallible human interpretations and practices.

2. Diverse practice in Muslim countries often reflect cultural influences (local or foreign), more so than the letter or spirit of the Shariiah.

3. Fortunately, there is an emerging trend for the betterment of our understanding of gender equity, based on the Qur'an and Hadeeth, not on alien and imported un-Islamic or non-Islamic values and not on the basis of the existing oppressive and unjust status quo in many parts of the Muslim world.

Endnotes:
1. The term equity is used instead of the common expression 'equality" which is sometimes mistakenly understood to mean absolute equality in each and every detailed item of comparison rather than the overall equality. Equity is used here to mean justice and overall equality of the totality of rights and responsibilities of both genders. It does allow for the possibility of variations in specific items within the overall balance and equality. It is analogous to two persons possessing diverse currencies amounting, for each person to the equivalence of US$1000. While each of the two persons may possess more of one currency than the other, the total value still comes to US$1000 in each case. It should be added that from an Islamic perspective, the roles of men and women are complementary and cooperative rather than competitive.
2. The Sunnah refers to the words, actions, and confirmations (consent) of the Prophet Muhammad in matters pertaining to the meaning and practice of Islam. Another common term which some authorities consider to be equivalent to the Sunnah is the Hadeeth (plural: Ahadeeth) which literally means "sayings."
3. In both Qur'anic references, 15:29 and 32:99, the Arabic terms used are basharan and al Insaun both mean a human being or a person. English translations do not usually convey this meaning and commonly use the terms "man" or the pronoun" him" to refer to "person" without a particular gender identification. Equally erroneous is the common translation of Bani Adam into "sons of Adam" or "men" instead of a more accurate term "children of Adam."
4. The emphasis is ours. The explanatory "both"{ was added whenever the Our'anic Arabic text addresses Adam and Eve, like "lahoma, akala, akhrajahoma." This was done in order to avoid misinterpreting the English term "you" to mean an address to a singular person. For the Biblical version of the story and its implications, see The Holy Bible, RSV, American Bible Society, New York: 1952: Genesis, chapters 23, especially 3:6, 12, 1717; Levi ticus 12:17; 15:19 30; and Timothy 2:11 14.
5. A common question raised in the West is whether a Muslim woman can be ordained as a priest as more "liberal" churches do? It should be remembered that there is no "church" or "priesthood" in Islam. The question of "ordaining" does not arise. However, most of the common "priestly" functions such as religious education, spiritual and social counseling are not forbidden to Muslim women in a proper Islamic context. A woman, however, may not lead prayers since Muslim prayers involve prostrations and body contact. Since the prayer leader is supposed to stand in front of the congregation and may move forward in the middle of crowded rows, it would be both inappropriate and uncomfortable for a female to be in such a position and prostrate, hands, knees and forehead on the ground with rows of men behind here. A Muslim woman may be an Islamic scholar, In the early days of Islam, there were several examples of female scholars who taught both genders.
6. This contrast with the legal provisions in Europe which did not recognize the right until nearly 13 centuries after Islam. "By a series of acts starting with the Married Women's Property Act in 1879, amended in 1882 and 1997, married women achieved the right to won property and to enter into contracts on a par with spinsters, widows, and divorcees." See Encyclopedia Britannica, 1968, vol. 23, p. 624.
7. This period is usually three months. If the wife is pregnant, it extends until childbirth.
8. Ahmad Ibn Hanbal (compiler), Musnad Ibn Hanbal, Dar al Ma'arif, Cairo: 1950 and 1955, vols. 3 and 4. Hadith nos. 1957 and 2104.
9. Narrated in Al Bayhaqi and Ibn Majah, quoted in M. S. Aftfi, Al Martah wa Huququhafi al Islam (in Arabic), Maktabat al Nahdhah, Cairo: 1988, p. 71.
10. Ibn Majah (compiler), Sunan Ibn Majah, Dar Ihya' al Kutub al Arabiyah, Cairo: 1952, vol. 1, Hadith #1873.
11. Matn al Bukhari, op. cit., vol. 3, p. 257.
12. Riyad al Saliheen, op. cit, pp. 140.
13. In the event of a family dispute, the Qur'an exhorts the husband to treat his wife kindly and not to overlook her positive aspects. If the problem relates to the wife's behavior, her husband may exhort her and appeal for reason. In most cases, this measure is likely to be sufficient. In cases where the problem continues, the husband may express his displeasure in another peaceful manner by sleeping in a separate bed from hers. There are cases, however where a wife persists in deliberate mistreatment of her husband and disregard for her marital obligations. Instead of divorce, the husband may resort to another measure that may save the marriage, at least in some cases. Such a measure is more accurately described as a gentle tap on the body, but never on the face, making it more of a symbolic measure than a punitive one. Following is the related Qur'anic text:
Men are the protectors and maintains of women because Allah has given the one more (strength) than the other and because they support them from their means. Therefore the righteous women are devoutly obedient and guard in (the husband's) absence what Allah would have them guard. As to those women on whose part you fear disloyalty and ill conduct, admonish them (first), (next) refuse to share their beds (and last) beat them (lightly); but if they return to obedience seek not against them means (of annoyance): for Allah is Most High, great (above you all). (Qur'an 4:34)
Even here, that maximum measure is limited by the following:
a. It must be seen as a rare exception to the repeated exhortation of mutual respect, kindness and good treatment discussed earlier. Based on the Qur'an and Hadeeth, this measure may be used in the case of lewdness on the part of the wife or extreme refraction and rejection of the husband's reasonable requests on a consistent basis (nushuz). Even then other measures such as exhortation should be tried first.
b. As defined by the Hadeeth, it is not permissible to strike anyone's face, cause any bodily harm or even be harsh. What the Hadeeth qualified as dharban ghayra mubarrih or light beating was interpreted by early jurists as a (symbolical) use of the miswak (a small natural toothbrush).
They further qualified permissible "beating" as beating that leaves no mark on the body. It is interesting that this latter fourteen centuries old qualifier is the criterion used in contemporary American law to separate a light and harmless tap or strike from "abuse" in the legal sense. This makes it clear that even this extreme, last resort and "lesser of the two evils" measure that may save the marriage does not meet the definitions of "physical abuse," "family violence," of "wife battering" in the twentieth century laws in liberal democracies, where such extremes are commonplace that they are seen as national concerns.
c. Permissibility of such symbolical expression of the seriousness of continued refraction does not imply its desirability. In several Ahadeeth, Prophet Muhammad discouraged this measure. Among his sayings: "Do not beat the female servants of Allah," "Some (women visited my family complaining about their husbands (beating them). These (husbands) are not the best of you," "[Is it not a shame that], one of you beats his wife like [an unscrupulous person] beats a slave and maybe he sleeps with her at the end of the day." See Riyad Al Saliheen, op cit., pp. 130 140. In another Hadeeth, the Prophet said:
"How does anyone of you beat his wife as he beats the stallion camel and then he may embrace (sleep with) her?" Shaheeh Al Bukhari, op. cit., vol. 8, Hadeeth no. 68, pp. 42 43.
d. True following of the Sunnah is to follow the example of the Prophet Muhammad, who never resorted to that measure regardless of the circumstances.
e. Islamic teachings are universal in nature. They respond to the needs and circumstances of diverse times, cultures, and circumstances but unnecessary in others. Some measures may work in some cases, cultures, or with certain persons but may not be effective in others. By definition a "permissible" it is neither required encouraged, or forbidden. In fact, it may be better to spell out the extent of permissibility such as in the issue at hand, than leaving it unrestricted and unqualified or ignoring it all together. In the absence of strict qualifiers, persons may interpret the matter in their own way lending to excesses and real abuse.
f. Any excess, cruelty, family violence, or abuse committed by any "Muslim" can never be traced, honestly, to any revelatory text (Qur'an and Hadeeth). Such excesses and violations are to be blamed on the person(s) himself as it shows that he is paying lip service to Islamic teachings and injunctions and is failing to follow the true sunnah of the Prophet.
14. For more details on marriage dissolution and custody of children, see A. Abd al Ati, Family Structure in Islam, Indianapolis: American Trust Publications, 1977, pp. 217 49.
15. For more details on the issue of polygyny, see Jamal A. Badawi, Polygyny in Islamic Law, Plainfield, IN: American Trust Publications, also Islamic Teachings (audio series), Islamic Information Foundation, 1982, album IV.
16. See for example, Edward A. Westermarck, The History of Human Marriage, 4th ed. (London: Macmlllan, 1925), vol 3, pp. 42 43; also Encyclopedia BibRca, Rev. T. K. Cheyene and J. S. Black, eds.) (London: Macmillan, 1925), vol. 3, p 2946.
17. A. M. B. 1. Al Bukhari (compiler) Matn al Bukhari, Cairo: Dar Ihya al Kutub al Arabiyah, n.d., vol. 3 Kitab al Adab, p. 47. Translated by the author. For a similar English translation of this Hadeeth, see Sahih al Bukhari translated by M. M. Khan Maktabat al Riyadh al Hadeethah, Riyadh, Saudi Arabia, i982, colt 8, the Book of ai Adab, Hadeeth no. 2, p. 2.
18. Narrated by Aisha, collected by Ibn Asakir in Silsilat Kunaz al Sunnah 1, Al./ami Al Sagheer, Ist ed. 1410 AH. A computer program.
19. Riyadh al Saliheen, op. cit., p. 139.

Bibliography:
The Qur'an and Hadeeth
1. The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary by A. Y. Ali, The American Trust Publication, Plainfield, IN 1977.
2. Matn al Bukhari, Al Bukhari (compiler), Dar Ihya al Kutub al Arabiyah, Cairo, Egypt, n.d.
3. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Hanbal (compiler), Dar Ihya' al Kutub al Arabiyah, Cairo Egypt, 1950 and 1955.
4. Riyadh al Saliheen, Al Nawawi, (compiler) New Delhi, India n.d.
5. Sahih Al Bukhari, M. Khan (translator), Maktabat Al Riaydh Al Hadeethah, Riyadh, Saudi Arabia 1982.
6. Silsilat Kunuz Al Sunnah: Al Jami al Sagheer, 1st ea., 1410 AH, a computer software.
7. Sunan Ibn Majah, Dar Ihya al Kutub al Arabiyah, Cairo: 1952.

Other References
1. Al Martah wa Huququha fi al Islam, M. S. Aftfi, Maktabat AlNadhhah, Cairo: 1988.
2. Holy Bible, RSV, American Bible Society, New York: 1952.
3. Encyclopedia Biblica, vol. 3, Rev. T. K. Cheyene and J. S. Black, editors, London: Machollan, 1925.
4. Encyclopedia Britanica, Vol. 23, 1968
5. The History of Human Marriage, vol. 3, Edward A. Westermarck, London: Macmillan, 1925