Atheis Dalam Kerugian


Hidup adalah pilihan, termasuk apakah kita memilih menjadi orang ceroboh atau berhati-hati. Atheis memilih jalan pertama, padahal KEBERADAAN Tuhan, surga, neraka dan hal-hal semacamnya mempunyai KEMUNGKINAN YANG SAMA antara keberadaannya dan ketiadaannya. TIDAK BISA DIBUKTIKAN bukan berarti TIDAK ADA, apalagi jika obyek yang ingin dibuktikan tidak terlihat. BAIK ATHEIS maupun THEIS sama-sama belum pernah melihat Tuhan, neraka, surga dll, karena itu siapa pun tidak bisa membuktikannya. Keberadaan semacam ini BARU KABAR. YANG MENARIK adalah, walaupun baru kabar, theis memercayainya; hal ini didasari oleh sikap baik sangka, tak sok tau, dan kehati-hatian mereka. Sebaliknya, mentang-mentang "BARU KABAR", atheis mendustakan Tuhan dan akherat, dan ini didasari oleh sikap ceroboh, buruk sangka, congkak dan idealis keliru mereka. Pertanyannya, manakah yang beruntung jika Tuhan dan hari penghakiman itu benar-benar ada? HIDUP ADALAH PILIHAN, dan SETIAP PILIHAN ada konsekuensinya. Menjadi atheis berarti SIAP untuk TIDAK MASUK surga, JIKA ternyata surga itu ada.

Ilustrasi:
Kamu harus pulang ke rumah untuk mengambil barang penting yang tertinggal, namun seorang tetangga yang satu-satunya saksi mengabarkan kepadamu bahwa seekor harimau baru saja masuk ke dalam rumahmu. Tidak diketahui SECARA PASTI apakah harimau itu masih ada di dalam atau tidak. Tentu, jika kamu adalah orang hati-hati dan mawas diri, tidak akan masuk begitu saja, setiap gerak-gerik yang kamu lakukan akan diperhitungkan, sebab boleh jadi harimau itu benar adanya. Berbeda jika kamu adalah seorang yang ceroboh, mentang-mentang BARU KABAR, apalagi SAKSINYA hanya satu, kamu masuk begitu saja tanpa hiraukan peringatan sang tetangga.

Maka, sikap yang menguntungkan adalah yang pertama, jika ternyata harimau itu benar keberadaannya.

Logika sederhana semacam ini sudah RASULULLAH MUHAMMAD saw sampaikan 14 abad yang lalu, tentu dengan redaksi dan perumpamaan berbeda, disesuaikan dengan konteks zamannya. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaanku dan ajaran yang dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan seseorang yang mendatangi kaumnya seraya berkata; ‘Wahai kaumku, sungguh aku telah melihat pasukan musuh, dengan mata kepalaku sendiri, datang untuk menyerbumu dan aku benar-benar pemberi peringatan yang tulus untuk keselamatan dirimu.’ Maka sebagian kaumnya ada yang patuh dan taat, hingga akhirnya mereka secara perlahan-lahan berangkat pergi dari kampung tersebut pada malam hari untuk menghindari serbuan pasukan musuh. Namun, ada pula sebagian kaumnya yang mendustakan orang yang memberi peringatan dan mereka tetap bertahan serta menetap di kampung itu sampai pagi hari. Tapi sayangnya, pasukan musuh menyerbu dan merusak kampung mereka di pagi hari. Itulah perumpamaan orang yang mematuhi dan mengikuti ajaran yang aku bawa, serta perumpamaan orang yang durhaka dan mendustakan kebenaran yang aku sampaikan.” (HR. Muslim)

Obyek bahasan para atheis sebenarnya adalah "apa yang bisa dilihat", artinya apa yang tidak bisa dilihat bukanlah obyek bahasan mereka, walaupun kerap kali mereka mengelak dengan berkata "Bukan yang tidak bisa dilihat, tapi yang tidak bisa dibuktikan!". Padahal "tidak bisa dibuktikan" dalam konteks pembicaraan tentang KEBERADAAN TUHAN merupakan konsekuesi logis dari "tidak bisa dilihat", sebab seandainya TUHAN BISA DILIHAT, tentu tak akan muncul pernyataan "TUHAN TAK ADA", pun begitu pula jika konteksnya alam semesta, penciptannya "tidak pernah disaksikan oleh seorang pun", ini artinya tak ada satu pun manusia yang dapat memastikan "Apakah alam semesta terjadi dengan sendirinya, atau diciptakan". Teori BIG BANG tidak membuktikan apapun, selain kronologis terjadinya alam semesta. Perihal apakah BIG BANG terjadi begitu saja atau ada Yang merancangnya adalah permasalahan yang lagi-lagi tak dapat DIPASTIKAN, namun amat disayangkan, para atheis yang mengklaim diri mereka sebagai "ORANG-ORANG BIJAK DALAM BERFIKIR" dengan enteng dan sedikit memaksakan mengatakan bahwa BIG BANG adalah awal, tak ada awal lagi sebelumnya.

Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang berkecimpung terhadap semua hal yang sifatnya materil, bisa diindera, ilmiah, terukur, dan masuk akal. Mereka tidak mau tau tentang semua hal yang diluar itu. Pertanyaannya adalah, kenapa para atheis bisa mengatakan "TUHAN TIDAK ADA", "ALAM SEMESTA ADA DENGAN SENDIRINYA"? Bukankah hal-hal semacam itu sifatnya diluar jangkauan indera? dengan kenyataan tadi; bahwa tak ada seorang pun yang benar-benar pernah melihat TUHAN dan menyaksikan proses terjadinya alam semesta. Dari sini terlihat bahwa mereka tidak konsisten. Katanya tidak mau tau dengan semua hal diluar jangkauan indera, nyatanya ikut campur, sampai berani mengatakan "TUHAN TIDAK ADA", "ALAM SEMESTA TERJADI DENGAN SENDIRINYA. Bukan kah sebaiknya mereka diam, karena dua hal itu jelas-jelas diluar obyek bahasan mereka. Karena itu dalam al-quran Allah berfirman, menyindir ketidak konsistenan mereka ini:

"Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong." (Al-Kahfi: 51)

Dalam Al-Quran, orang-orang semacam atheis disebut-sebut sebagai orang sesat. Kenapa dikatakan sesat? Kalau saya jabarkan dengan sebuah perumpamaan, mereka ibarat seseorang yang bertanya "Di mana rumah si Polan?", dijawab "Lurus terus saja, jangan belok!".

Alih-alih mengikuti anjuran, atheis malah belok, niatnya baik, ingin coba-coba, motifnya bagus, karena idealisme, sayangnya dia salah belok, yang ternyata belokan itu sama sekali tak akan mengantarkan pada tujuan, malah membuatnya tersesat.

Seperti itulah perumpamaan atheis, kerap kali mereka menggaung-gaungkan kalau kita harus mendobrak dogma agama, mengesampingkan doktrin-doktrin agama. Agama dan Tuhan, menurut mereka, terlalu mainstream, terlalu umum. Agama ibarat benda pusaka yang diwariskan turun-temurun yang asal-usulnya adalah manusia sendiri; spesifiknya "manusia lemah" yang butuh akan sosok super power yang bersembunyi di kolong langit sana (Tuhan). Begitu kata mereka.

Disitu lah kesesatan mereka, sampai bisa berfikir jauh kalau yang namanya dogma tidak benar, kalau sesuatu yang sifatnya terlalu umum, pasti keliru, kalau yang namanya doktrin 100% otomatis salah. Darimana kesimpulan ini datang? Hal ini tidak bisa dijelaskan kecuali dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya adalah "ORANG-ORANG PENASARAN' yang ingin coba-coba, membuat inovasi baru, atau menunjukan dirinya sebagai orang tidak biasa. Karena itu, tepat kiranya kalau ATHEIS dikatakan sebagai fenomena. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, salah satu definisi fenomena adalah "Sesuatu yang tidak biasa". Tidak biasa berarti luar biasa, luar biasa berarti tidak umum.

Orang-orang atheis adalah kaum yang tidak umum, mereka adalah PENGECUALIAN, terselip diantara mayoritas dan merasa bangga, padahal minoritas tidak selalu tentang “orang-orang terpilih”, minoritas juga bisa berarti “mereka yang tersesat”, seperti orang gila, mereka minoritas, tapi tak seorang pun mengatakan kalau orang gila lebih baik dari orang waras, lebih jauh lagi, tak seorang pun meyakini “sejatinya manusia adalah gila, adapun waras adalah fenomena”.

Tak ada manusia yang memulakan hidupnya sebagai orang kafir. Kekafiran adalah fenomena, iman kepada Allah yang Esa, itulah sejatinya keyakinan manusia. Seperti gelap dan terang, kenapa gelap ada? karena tak ada cahaya. Gelap adalah fenomena, dan terang, itulah sejatinya bumi manusia. Gelap tak dapat dipelajari, sedangkan cahaya ada ilmunya.

Seperti itu pula iman kepada Allah dan kafir terhadap-Nya, untuk menjadi orang beriman kita bisa temukan ilmunya, tapi untuk menjadi kafir (atheis), tak perlu memelajarinya, karena kekafiran akan terjadi ketika sebab-sebab iman tiada. Melenceng dari "jalan yang lurus" merupakan salah satu terjadinya kekufuran.

Atheis jelas-jelas melenceng dari cara berfikir yang benar tentang TUHAN dan ALAM SEMESTA, tentang PENCIPTA (creator) dan YANG DICIPTAKAN (creature). Kerap kali mereka menggugat "Kalau alam semesta diciptakan TUHAN, lalu siapa yang menciptakan TUHAN?" Pertanyaan mereka mirip seperti pertanyaan "Kalau sebelum DUA itu SATU, lalu kenapa SATU itu DUA?" Pertanyaan ini jelas keliru, artinya tidak mungkin ada jawabannya, bukan tidak bisa dijawab. Pertanyaan tersebut diakui benar jika ada TUHAN yang diciptakan, jika ada PENCIPTA yang sekaligus CIPTAAN. Kenyatannya Pencipta bukanlah yang diciptakan, sama seperti satu dan dua, kalau satu itu dua, bukan satu namanya. Kalau pencipta itu diciptakan, bukan pencipta namanya.

Atheis mengatakan bahwa BIG BANG adalah awal dari alam semesta, tidak ada awal lagi selainnya. Alam semesta terjadi dengan sendirinya, atau ada secara alami, atau secara kebetulan. Hal yang mengundang banyak tanya, "SIAPA atau APAKAH SI ALAMI, SI KEBETULAN dan si DENGAN SENDIRINYA ini sebenarnya?" Jelas mereka bukan sebuah wujud, mereka adalah sosok yang "tidak ada", jadi tentu mereka tidak melihat, tidak mendengar, dan punya kuasa. Atheis telah sukses membuat kesimpulan bahwa yang "TIDAK ADA" telah menjadikan yang  tiada menjadi "ADA"! Atheis juga secara tidak langsung telah MEYAKINI dan MENGIMANI sosok yang tak mendengar, melihat dan tak punya kuasa sebagai sebab dari keberadaan alam semesta.

Pendapat kedua, “SI ALAMI INI” adalah “Benda itu sendiri”, bumi adalah bumi sendiri, langit adalah langit sendiri, alam semesta adalah alam semesta itu sendiri. Lalu bagaimana ketika alam semesta belum terjadi? apakah itu berarti Atheis ingin mengatakan bahwa “ALAM SEMESTA” menciptakan “ALAM SEMESTA”, alam semesta belum ada dan “ketiadaan alam semesta” ini telah menciptakan alam semesta. Sungguh membingungkan.

Setidaknya itulah kepercayaan mereka; yakin sepenuhnya kepada sosok yang jangankan mendengar, wujudnya sendiri “Tidak jelas” atau "Tidak ada”. Berbeda dengan orang-orang beriman, mereka yakin sepenuhnya terhadap Tuhan, terhadap Allah, yang wujud (ada), yang sifatnya serba Maha; Maha Esa, Maha Kuasa, Maha mendengar dst. Kesimpulannya pun akan berbeda, bahwa SEGALA SESUATU YANG ADA, pasti disebabkan oleh DIA YANG MEMBUATNYA ADA. Dia adalah sang PENCIPTA.

Dengan demikian Alam semesta merupakan bukti keberadaan-Nya, dan tentu Atheis tidak mudah percaya begitu saja akan pernyataan ini. Siapa sebenarnya mereka? ILMUWAN kah?  "ilmuwan terbesar yang pernah ada", semua mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak hanya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi juga meyakini bahwa keseluruhan alam semesta adalah hasil ciptaan-Nya; Albert Einstein, yang dianggap sebagai orang paling jenius di zaman kita, adalah seorang ilmuwan yang mempercayai Tuhan dan menyatakan, "Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang."

"Salah seorang pendiri fisika modern, dokter asal Jerman, Max Planck mengatakan bahwa setiap orang, yang mempelajari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh, akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah kata: "Berimanlah". Keimanan adalah atribut penting seorang ilmuwan"

"Pada umumnya mereka yang memelopori ilmu pengetahuan modern mempercayai keberadaan-Nya. Seraya mempelajari ilmu pengetahuan, mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yang telah diciptakan Tuhan dan mengungkap hukum-hukum dan detail-detail dalam ciptaan-Nya. Ahli Astronomi seperti Leonardo da Vinci, Copernicus, Keppler dan Galileo; bapak paleontologi, Cuvier; perintis botani dan zoologi, Linnaeus; dan Isaac Newton, yang dijuluki sebagai "ilmuwan terbesar yang pernah ada", semua mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak hanya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi juga bahwa keseluruhan alam semesta adalah hasil ciptaan-Nya."

Barangkali Atheis akan tetap ngotot dengan pernyataan “Adak kok ilmuwan yang atheis”, maka saya mengutip kata-kata seorang ilmuwan lagi. John Lennox berkata “Nonsense remain nonsenses, even when spoken by famous scientist” (omong kosong tetap lah omong kosong, bahkan jika itu diucapkan oleh ilmuwan terkenal). Barangkali sudah saatnya saya mengajak para atheis dewasa; agar tidak melihat siapa yang bicara, tapi apa isi pembicaraannya, jadi jangan katakan “Ini ilmuwan loh yang ngomong!”. Saya sangat yakin bahwa para Ilmuwan atheis lagi-lagi adalah pengecualian dari ilmuwan sebenarnya. Mereka adalah segelintir fenomena, yang ilmunya boleh jadi benar, tapi tidak menyampaikan pada “kebenaran”.

Jika para atheis bukan ilmuwan, apakah mungkin mereka Filosof? sepertinya juga bukan. Socartes adalah seorang filosof besar dan ia pernah berkata bahwa sesuatu yang nampak fungsi atau kegunaan dari sekedar melihat bentuknya, menunjukan kalau sesuatu itu sengaja diciptakan, bukan kebetulan atau tercipta dengan sendirinya. Coba lah lihat pisau! Apakah nampak kegunaan dan fungsinya? Pembuatnya tahu kalau manusia butuh alat untuk mengiris atau memotong, karena itu lah akhirnya pisau dibuat dengan bentuk yang runcing dan tipis, sebuah bentuk yang sempurna untuk mengiris, bukan untuk menancapkan paku (itu fungsi palu).

Pada manusia misalkan, jari jemari pada manusia yang selalu lima, menunjukan bahwa mereka diciptakan, karena si alami dan kebetulan tidak mungkin membuat cetakan yang sama. Kenapa mobil Avanza misalkan, bentuknya sama? karena ada pabriknya. Jika mobil-mobil tersebut terjadi akibat besi-besi, karet, alumunium dan material lain yang tiba-tiba saling menumpuk sendiri, tentu rupa bentuknya akan berbeda-beda. Manusia dengan bentuk rupanya saat ini merupakan isyarat bahwa ia ada karena diciptakan, bukan ada dengan sendirinya, sangat ganjil tentunya jika si "DENGAN SENDIRINYA" memunculkan sesuatu yang rumit dan detail. Bagi atheis mungkin hal ini tidak ganjil, setidaknya inilah perbedaan antara atheis dan kebanyakan manusia normal pada umumnya, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak konsisten, untuk satu hal mereka mengatakan kalau apa yang “ada”, pasti ada penyebabnya, kali lain mereka berkata “alam semesta ini tak ada penyebabnya”, melainkan terjadi secara spontan, dengan sendirinya.
                                      
Untuk meyakini bahwa TUHAN itu ada, kita cukup melihat apa yang telah Dia ciptakan. Langit dan bumi, serta jagad raya ini beserta isinya yang telah Allah ciptakan, menunjukan bahwa Dia ada dan dia Maha Kuasa. Setelah kita tahu akan keberadaan dan ke Maha Kuasaan-Nya, maka bentuk dan hal konkret lain terkait dengan diri-Nya bukan lagi hal yang penting, karena hanya dengan melihat kesempurnaan dan keseragaman bentuk ciptaan-Nya, kita langsung tau sedahsyat apa kekuasaan-Nya.

Seperti ketika kita melihat sebuah bungkus permen di jalan, hal tersebut menunjukan bahwa pabrik produksi permen itu ada, dan tahu akan keberadaannya sudah cukup, sehingga seperti apa bentuk pabrik dan luas areanya bukan lagi menjadi hal penting untuk diketahui, karena hanya dengan melihat kualitas dan mereknya kita langsung tahu, bergengsi atau tidak pabrik permennya.

Sosok apalagi yang bisa menciptakan pohon-pohon dengan detail bentuk dan fungsi bagian-bagiannya yang luar biasa? Apakah "Tidak ada" bisa membuat ada itu semua? Belum lagi yang lainnya! langit di atas kita dengan lapisan-lapisannya! di bawah kita, bahkan pada diri kita, ini semua memerlihatkan kepada kita akan kualitas. Siapakah yang bisa membuat benda-benda materil dengan kualitas sedahsyat ini? Oleh karena itu cara kerja IMAN tidaklah muluk-muluk seperti cara pikirnya atheis. Menurut IMAN, tanda akan keberadaan TUHAN adalah seperti apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran:

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Jika atheis bukan ilmuwan, bukan filosof, apakah berarti mereka Orang tersesat? mungkin inilah yang pas, kenapa? Karena mereka memilih jalan sendiri untuk sampai pada tujuan. Kesalahan bukan terletak pada sikap memilihnya, tapi pada fakta bahwa jalan yang mereka lalui ternyata salah, konsekuensinya, mereka pun tersesat. Orang yang tersesat, seringnya tak bisa kembali.

Dalam Al-Quran, orang yang tersesat dari jalan lurus adalah mereka yang tak mau memungsikan akalnya dengan baik, kenapa? Karena mereka bisu, buta dan tuli. Dikatakan bisu, karena, jangankan meyakini, sekedar mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah pun gengsinya bukan main.

Dikatakan buta, karena mereka punya mata tapi tidak memungsikannya, dan seperti itulah orang buta. Tidak melihat bukan berarti tidak punya mata, mereka punya mata, tapi tidak berfungsi. Mereka buta, karena tidak menyadari tanda keberadaan pencipta yang begitu gamblang di depan matanya.

Dikatakan tuli, karena mereka tidak mau mendengar semua suara yang mengatakan TUHAN itu ada sekalipun, jika adu argumen mereka kalah, karena tak punya bukti kuat selain mengatakan pokoknya "TUHAN TIDAK ADA", pokoknya "ALAM SEMESTA TERJADI DENGAN SENDIRINYA". Sesekali, membeberkan teori evolusi, untuk mendukung pendirian mereka.

Karena mereka bisu, tuli dan buta, maka mereka tidak dapat berfikir dengan benar. Allah berfirman:

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak bisa berfikir.” (QS. Al-Baqarah: 171)

Manusia yang tidak mau atau malas memergunakan akalnya, hati nurani dan penglihatannya, Allah umpamakan dengan BINATANG TERNAK, bahkan lebih sesat darinya, kenapa? karena binatang memang tidak dianugerahi dengan itu semua. Jika manusia dianugerahi itu, kemudian tidak difungsikan, bukankah benar apa kata Allah, bahwa manusia semacam ini lebih sesat dari hewan. Allah berfirman:

"Mereka mempunyai Nurani, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seumpama binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raaf: 179)

Ingat bahwa pendengaran, penglihatan dan nurani merujuk pada fungsi, adapun alatnya adalah dinamakan dengan telinga, penglihatan dan hati (qalb). Sekalipun hewan punya telinga dan mata, apa yang ia lihat dan dengar tidak akan pernah membuat mereka menjadi belajar banyak hal, diantara mereka mungkin ada hewan cukup cerdas yang bisa atraksi berhitung, tapi tak ada yang sampai membuat peradaban seperti peradaban umat manusia. Inilah sebenarnya yang hendak Allah jelaskan kepada manusia-manusia sebangsa atheis. mereka punya mata, telinga dan hati, tapi itu semua tidak menyampaikan mereka pada keyakinan, apa bedanya kalau begitu dengan hewan? Bahkan hewan sendiri, setidaknya menurut Al-Quran, mengakui keberadaan Allah. Dia befirman:

"Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. As-Shaf: 1)

Prof William baru-baru ini menemukan fakta tentang tumbuhan bahwa ia mengeluarkan semacam suara halus yang hanya bisa dideteksi oleh alat perekam ultrasonik. Karena penasaran, prof. mengkonversi suara tersebut dengan alat khusus agar menjadi semacam grafik yang bisa dibaca. Sayang, bentuk grafik tersebut tak dapat ia pahami. Maka kemudian beliau meminta bantuan kepada kawannya yang beragama islam, dan ternyata grafik itu tiada lain merupakan lafazh Allah.

Saya yakin, sekalipun atheis tahu informasi ini semua, tak akan ada kata yang ia ucapkan selain "Ceramah ya?". Karena sudah dari sejak awal mereka memosisikan diri sebagai "ORANG PANDAI", sedangkan orang beriman menurut mereka adalah "ORANG POLOS, BEGO, dan MUDAH PERCAYA", padahal Iman adalah perkara besar; butuh kehati-hatian dan kecermatan dalam mengambil keputusan untuk meyakini sesuatu, tidak bisa lekas percaya begitu saja, asal percaya berarti mengakui kebodohan diri dan kemalasan untuk berfikir. Begitu kata atheis.

Seandainya mereka (para atheis) bisa lebih moderat dan bijak dalam berfikir, tentunya yang mereka katakan adalah sebaliknya “Orang-orang beriman adalah orang-orang cerdas, mereka bisa berfikir cepat, karena itulah mereka cepat pula dalam mengambil keputusan untuk beriman”, kenapa? Karena Kebenaran itu seterang sinar mentari dan sejelas rembulan. Perlukah bukti akan terangnya sinar mentari? Perlukah bukti jelasnya rembulan? Atau seperti malam dan siang, perlu kah bukti kalau siang itu terang, dan malam itu gelap?

Malam dan siang mungkin tidak perlu bukti, karena itu aksioma[1], tapi keberadaan Tuhan perlu bukti, balas mereka lagi-lagi. Saya hanya bisa mengatakan bahwa sebenarnya seperti inilah iman terhadap keberadaan Tuhan bekerja; jika keberadaan alam semesta ditolak sebagai bukti keberadaan-Nya, naluri lah yang akan mengokohkan keberadaan-Nya. Dalam istilah islam, kondisi seperti ini disebut sebagai fitrah, dan fitrah lebih dari aksioma. Seringnya, fitrah bekerja ketika manusia berada dalam kondisi tak punya pilihan lain di hadapan bahaya selain menyerahkan kepada “sesuatu” yang mungkin menyelamatkannya, atau berada pada semua kondisi yang tidak menguntungkannya, kegalauan hidup, bimbang, stress, dst. Tentang hal ini, Allah berfirman:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 12)

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar.” (QS. Yunus: 22-23)

Bukan Tuhan yang butuh manusia, tapi manusia yang butuh, siapapun orangnya, pasti butuh Tuhan, dan ini tak dapat dipungkiri. Islam menegaskan bahwa dalam diri setiap manusia terkadung fitrah ini, semua orang punya kecenderungan untuk mengakui adanya sesuatu yang mengatur semuanya, yang membuat semuanya. Dan atheis mengatakan bahwa sesuatu itu bernama "SI DENGAN SENDIRINYA".

Pada dasarnya mereka mengakui adanya SEBAB pada sesuatu, karena ini logika orang waras. Tak mungkin ada AKIBAT kalau TIDAK ADA SEBAB. Jika asap adalah akibat, maka sebabnya boleh jadi rokok atau yang lainnya, yang jelas tidak mungkin ada asap kalau tidak ada benda yang mengeluarkannya.

Mereka percaya pada sebab, dan disitulah mereka berhenti. Lupa bahwa dibalik sebab ada yang menciptakan sebab. Asap ada karena rokok ada misalkan, kenapa rokok ada, karena ada yang membuatnya (manusia). Bumi berputar, bukankah itu tanda akan keberadaan Allah? mereka akan menjawab "Bukan! bumi berputar karena adanya rotasi!", "Lalu bagaimana rotasi bisa ada? terjadi sendiri? Siapa yang mendesain bumi bisa berotasi?"

Tentu mereka akan tertawa terbahak-bahak sambil berkata "Atheis hanya membahas sesuatu dalam konteks 'ia telah tejadi' Bukan dalam konteks "Kenapa atau bagaimana ia terjadi?". Rotasi ada, ya karena terjadi dengan sendirinya, memang sudah ada dan terjadi, tidak bisa ditanyakan "kenapa atau bagaimana ia terjadi?".

Tentu kami pun tertawa sambil bertanya "Namun kenapa KENYATAANNYA yang 'telah terjadi itu' bisa terjadi?". Selama mereka konsisten dengan prinsip sebab akibat, tentunya terkesan MENGGAMPANG-GAMPANGKAN dan MALAS BERFIKIR jika mereka hanya berkata "yang terjadi itu, terjadi dengan sendirinya".

Seperti itulah yang terjadi dengan teori Evolusi. Evolusi hanya memberi tahu kita apa yang terjadi setelah kita hidup, adapun permasalahan darimana sesuatu yang hidup itu berasal? Darwin tak pernah membahas hal tersebut.

Hasil perenungan darwin tentang alam semesta ini kemudian mendorongnya untuk membuat pernyataan yang terkenalnya, "Natura non facit saltum" (alam tidak melakukan loncatan). Menurut dia, Semua hal yang ada di dunia ini, dengan bentuknya yang sekarang, merupakan hasil perkembangan secara bertahap dan memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Itulah arti dari evolusi.

Oleh karena itu, Apabila kita bertanya bagaimana makhluk hidup muncul di muka Bumi, maka terdapat dua jawaban yang berbeda:

Pertama, makhluk hidup muncul melalui proses evolusi. Menurut pernyataan teori evolusi, kehidupan dimulai dengan sel yang pertama (organisme tunggal). Sel pertama ini muncul karena faktor kebetulan, atau karena faktor "pembentukan mandiri", yang secara hipotetis disebut-sebut sebagai suatu hukum alam. Berdasarkan faktor kebetulan dan hukum alam ini pula, sel hidup ini lalu berkembang dan berevolusi, dan dengan mengambil bentuk-bentuk yang berbeda, menghasilkan berjuta-juta spesies makhluk hidup di Bumi.

Jawaban kedua adalah Penciptaan. Semua makhluk hidup ada karena diciptakan oleh Pencipta yang cerdas. Ketika kehidupan beserta berjuta-juta bentuknya - yang tak mungkin muncul secara kebetulan itu - pertama kali diciptakan, makhluk hidup telah memiliki rancangan yang lengkap, sempurna dan unggul, sama seperti yang dimilikinya sekarang. Ini dibuktikan secara jelas dan nyata, yang mana makhluk hidup paling sederhana sekali pun telah memiliki struktur dan sistem kompleks, yang mustahil tercipta sebagai akibat dari faktor kebetulan dan kondisi alam.

Di luar kedua alternatif ini, tidak ada pernyataan atau hipotesa lainnya tentang asal muasal makhluk hidup. Menurut peraturan logika, jika satu jawaban untuk sebuah pertanyaan - yang hanya memiliki dua alternatif jawaban - terbukti salah, jawaban yang kedua pasti benar. Ini merupakan salah satu kaidah paling mendasar dalam logika, disebut sebagai inferensi disjunktif (modus tollendo ponens).

Dengan kata lain, jika terbukti bahwa makhluk hidup di Bumi tidak berevolusi melalui kebetulan, seperti pernyataan para evolusionis, jelaslah bahwa makhluk hidup adalah karya sang Pencipta. Para ilmuwan pendukung teori evolusi sepakat akan tidak adanya alternatif ketiga. Salah satunya, Douglas Futuyma, menyatakan:

‘Organisme hanya mungkin muncul di muka bumi dalam wujud telah terbentuk sempurna, atau tidak. Jika tidak, berarti organisme telah terbentuk dari spesies pendahulunya melalui suatu proses perubahan. Jika organisme muncul dalam wujud telah terbentuk sempurna, pastilah organisme itu diciptakan oleh suatu kecerdasan mahakuasa.’[2]

Catatan fosil memberikan jawaban kepada Futuyma yang evolusionis itu. Paleontologi menunjukkan bahwa semua jenis makhluk hidup muncul di Bumi pada saat berlainan, sekaligus dalam sekejap dan dalam wujud yang telah sempurna terbentuk.

Semua hasil penggalian dan penelitian selama seratus tahun atau lebih, menunjukkan bahwa -bertentangan dengan pendapat kaum evolusionis- makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dalam wujud sempurna tanpa cacat, atau dengan kata lain makhluk hidup telah "diciptakan". Bakteri, protozoa, cacing, moluska, dan makhluk laut tak bertulang belakang lainnya, artropoda, ikan, amfibi, reptil, unggas, dan mamalia, semua muncul seketika, lengkap dengan sistem dan organ yang kompleks. Tidak ada fosil yang dapat disebut sebagai makhluk transisi atau tahap perantara. Paleontologi menampilkan pesan yang sama dengan cabang ilmu lainnya: Makhluk hidup tidak berevolusi, tetapi diciptakan. Sebagai hasilnya, pada saat kaum evolusionis mencoba membuktikan teori mereka yang tidak berdasarkan fakta itu, mereka justru membuktikan kebenaran penciptaan dengan tangan mereka sendiri.

Robert Carroll, seorang ahli paleontologi vertebrata dan seorang evolusionis yang gigih, mengakui bahwa keinginan kaum Darwinis tidak dipenuhi oleh penemuan di bidang fosil:

‘Meskipun, selama lebih dari seratus tahun sejak meninggalnya Darwin telah dilangsungkan upaya pengumpulan yang intensif, catatan fosil belum juga menghasilkan gambaran mata rantai transisi yang tak terhingga jumlahnya, seperti yang ia harapkan'.[3]

trilobita evolusi.jpg
Salah satu hewan tak bertulang belakang kompleks yang tiba-tiba muncul di Zaman Kambrium sekitar 550 juta tahun yang silam adalah fosil trilobita di samping. Salah satu ciri trilobita yang membingungkan kaum evolusionis adalah struktur mata majemuknya yang kompleks. Pada mata trilobita yang amat kompleks ini, terdapat sistem lensa majemuk. Sistem ini persis sama dengan sistem pada hewan di zaman sekarang seperti laba-laba, lebah dan lalat. Fakta bahwa sekitar 500 juta tahun silam, struktur mata yang begitu rumit muncul secara tiba-tiba, sudah cukup untuk mengantarkan teori evolusioner (yang berdasarkan faktor kebetulan) masuk ke dalam keranjang sampah.

Melanjutkan pembicaraan tentang fitrah atau naluri beragama pada diri manusia, para atheis mengatakan bahwa sekalipun mereka tidak percaya tuhan, mereka tetaplah makhluk bermoral. Mereka ingin menjadi orang baik, mereka tidak melakukan zina, perbuatan jahat, buruk dan seterusnya. Inilah makna agama yang saya maksud. Pada dasarnya secara naluri, mereka tetap condong pada kehidupan seperti kehidupan orang beragama.

3.jpg

Sebuah gereja Atheis terbesar di London, Inggris. Para Jemaat sedang berkumpul pada hari minggu. Mereka bernyanyi, bertepuk tangan dan mendengar khotbah. Sekalipun tidak percaya kepada Tuhan, menurut mereka, mendengar nyanyian, mendengar perkataan baik (ceramah) untuk memerbaiki diri adalah perlu; salah seorang jamaat berkata “I think that, just because you don't believe in God, doesn't mean you don't want to hear really interesting talks, to think about improving yourself, to sing with others and have a cup of tea with them at the end. This is really all the best things about Church, but without the one thing I'm uncomfortable with - which is the religion part.”[4]

Agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta, A berarti tidak, Gama berarti kacau. Jadi agama berarti tidak kacau. Kenapa tidak kacau? Karena ada aturan. Orang yang hidup berdasarkan aturan berarti orang yang beragama.

Tentu atheis akan menolak kalau mereka adalah orang beragama, sebab atheis bukan agama, melainkan cara pikir, namun mereka tidak bisa menolak bahwa ada kecenderungan dalam diri mereka untuk berbuat baik dan bermoral. Kenapa? Karena mereka manusia, dan semua manusia dilengkapi dengan perangkat fitrah (kecenderungan untuk melakukan hal yang benar).

Sah kah mereka berlaku sesuai aturan adab, moral dan etika? Tentu sah. Sayangnya, karena cara pikir manusia berbeda, maka aturan yang muncul pun akan berbeda. Mereka tidak punya standar tentang kebenaran dan moral, kecuali hasil dari pemikiran masing-masing. Apa yang atheis lihat baik, ia lakukan, padahal belum tentu pada saat yang sama atheis lain memandang bahwa apa yang kawannya lakukan adalah baik, ini jika standarnya akal. Jadi permasalahannya adalah, aturan yang mereka buat untuk diri mereka sendiri tidak punya standar, selain akal mereka masing-masing, padahal akal manusia beda-beda dalam memahami. Benar apa kata Dostoyevsky dalam pernyataannya yang terkenal, “If God does not exist, then everything is permissible” (Jika Tuhan tidak ada, maka semuanya diperbolehkan).

Jika standar aturan itu akal, maka sejarah telah membuktikan bahwa di Iran sana Tahun 487 M, muncul sebuah ajaran yang bernama Mazdak. Ajaran ini mempropagandakan bahwa semua manusia dilahirkan sama tanpa perbedaan apapun juga. Oleh karena itu, manusia harus hidup secara sama dan tidak boleh ada perbedaan. Mengingat bahwa kekayaan dan wanita membuat manusia mengutamakan diri sendiri dan menjadi sumber perbedaan sosial, menurut Mazdak dua hal itu merupakan persoalan terpenting yang harus dipersamakan dan dikolektifkan.

Seruan tersebut mendapat sambutan dan persetujuan dari kalangan pemuda, kaum hartawan dan golongan-golongan yang hidup berfoya-foya, karena sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka. Ajaran Mazdak ini beruntung juga karena mendapat perlindungan dari istana (pemerintah). Raja Persia ketika itu ikut andil dalam mendukung aktif, dan menyebarluaskannya.

Mengenai hal ini At-Thabari mengatakan:
“Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh rakyat lapisan bawah untuk berhimpun disekitar Mazdak dan kawan-kawannya. Mereka menjadi bertambah kuat dan membahayakan orang banyak, karena mereka berani masuk menyerbu ke dalam rumah orang lain dan bertindak sewenang-wenang, merampas apa yang ada di dalam rumah dan menggagahi wanita-wanita yang dijumpainya, dalam keadaan penghuni rumah tidak berdaya menghadapi mereka. Mereka terus mendorong Qubads (raja Persia) supaya mendorong dan membagus-baguskan tindakan mereka, dan mengancam akan menurunkannya dari tahta kerajaan bila ia tak mau memenuhi tuntutan mereka. Dalam waktu singkat di Iran banyak orang yang tak mengenal anaknya dan anak tidak mengenal siapa ayahnya, dan banyak pula orang-orang yang tidak bisa memiliki sesuatu untuk dapat hidup berkecukupan.”

Lebih jauh Thabari mengatakan: “sebelum itu, Qubads sebenarnya termasuk raja Persia yang terbaik, tapi setelah melibatkan diri dalam kerjasama dengan Mazdak, kekacauan merajalela dan ketentraman menjadi rusak.”[5]

Karena itulah seharusnya mereka menerima agama sepaket dengan Tuhan dan aturan yang Dia berlakukan. Aturan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kitab suci dan sabda para Nabi, terlepas dari keotentikan kitab suci bersangkutan.

Hanya Tuhan yang berhak membuat aturan, dan Kitab suci yang ada saat ini diklaim sebagai Firman Tuhan, berisi petunjuk hidup dan aturan-aturan. Itu semua adalah standar yang jelas. Jika semua manusia merujuk pada standar yang sama, tentu tidak akan terjadi kehidupan yang seenaknya. Masalah bahwa kitab suci itu perlu penafsiran, bahasanya terkesan ambigu dan bercabang, tentu tidak lantas dapat membuktikan bahwa kitab suci bukan berasal dari Tuhan.

Setidaknya, dalam kitab suci umat islam (Al-Quran), pedoman dan petunjuk di dalamnya terurai secara gamblang dengan bahasa sederhana. Di dalamnya Allah berfirman bahwa yang dianjurkan adalah mentadabburi, bukan mentafsirkan. Tafsir berarti mengetahui maksud sebenarnya dari ayat-ayat di dalam Al-Quran, adapun tadabbur adalah mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-quran minimal untuk diri sendiri. Karena itu untuk menafsirkan, butuh menguasai disiplin ilmu tertentu. Adapun untuk mentadabburi, cukup memahami arti dan konteks ayat bersangkutan.

Al-Quran adalah kitab suci satu-satunya yang tak ada kontradisksi dengan ilmu pengetahuan. Jadi, umat islam bukanlah umat yang dipaksa untuk meninggalkan akal jika ia ingin beragama, pun sebaliknya, bukan orang yang dianjurkan meninggalkan agama jika ia ingin berakal.

Adanya wacana kontradiksi pada isi kitab suci terjadi karena dua kemungkinan, jika tidak karena yang menyampaikan isinya keliru, pasti karena kitab sucinya tidak otentik. Di dalam Al-Quran tidak ada kontradiksi, dan inilah yang ayat-ayat di dalamnya tegaskan.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan (kontradiksi) yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa: 82)

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 1)

Kerap kali diisukan bahwa Al-Quran adalah buatan Muhammad, saya ingin katakan, kalau isunya seperti itu, berarti sesungguhnya Muhammad adalah seorang pemberani. Dia berani mengatakan bahwa kitab yang dikarangnya SAMA SEKALI TIDAK ADA KESALAHAN dan TAK ADA KONTRADIKSI. Setidaknya ada jaminan dari si penulis sendiri. Bagaimana dengan kitab suci lainnya? Alkitab (bible) misalkan, silahkan dicari ayat dengan bunyi serupa? Adakah jaminan dari si penulis.

Ayat-ayat Al-Quran membuat geger seantero arab dengan keindahan bahasanya yang luar biasa. Musuh Muhammad sendiri mengakui bahwa isinya bukanlah syair yang selama ini diisukan, bukan pula sihir. Dengan sekejap, ayat-ayat tersebut berhasil merubah bangsa bermoral bejad. Al-Quran sendiri menjadi bacaan yang best seller, namun Muhammad tidak mengklaimnya sebagai karya dia. Padahal, jika itu benar karyanya, tentu seharusnya ada kebanggaan tersendiri ketika ia mengetahui bahwa karyanya best seller.

Al-Quran juga menjelaskan perjuangan para Nabi yang umat kristen istilahkan dengan Nabi-nabi perjanjian lama (Zakariah, Ayub, Yusuf, Nuh dst). Tentu jika Muhammad adalah pengarang Al-Quran, nama yang paling banyak ia tulis di dalamnya adalah nama sendiri. Nyatanya, para Nabi-nabi itulah yang namanya paling banyak tercatat.

Dari aspek penulisan dan pembukuan, sejarah mencatat bahwa prosesnya terjadi secara ketat, bertahap dan dalam penilikan yang super detail. Semua isu miring akan adanya kecacatan dalam pembukuan Al-Quran dan penulisannya, tak ada yang tersisa satupun kecuali terbantah. Isu-isu lain seputar bahasa Al-Quran yang tidak sesuai kaidah bahasa, pun terbantah. Tulisan kecil ini tak mungkin memuat isu-isu dan bantahannya tersebut, dan saya pun tak memaksa pembaca untuk percaya. Karena kebenaran itu dibutuhkan, tidak membutuhkan.

Hal tersebut membuktikan janji Allah, bahwa penjagaan Al-Quran berada langsung di bawah pengawasan-Nya, sehingga tak ada seorang pun yang dapat mencemari keotentikan Al-Quran. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr:9)

Pada akhirnya saya mengatakan bahwa para atheis adalah orang-orang merugi, sebab Islam sebenarnya adalah solusi pas bagi mereka. Hal ini saya sampaikan, khususnya kepada para atheis pemula, yang didorong rasa ragu, dengan berani langsung menyampaikan kesimpulan prematurnya bahwa Tuhan tidak ada. Daripada mengatakan demikian, gali lah kembali agama ini, niatkan hati tuk menemukan kebenaran. Jika itu dilakukan dengan tulus sepenuh pengharapan, Allah akan menunjukan jalan. Kenapa saya katakan ini? Sebab tidak sedikit seseorang yang asalnya atheis, menjadi muslim taat. Bukan hanya merasa tidak risih dengan keyakinannya yang baru, tapi juga membuat sumbangsih besar bagi negara bahkan dunia.


[1] Sesuatu yang tidak dibutuhkan dalil untuk membuktikan kebenarannya, seperti “Api itu panas”.
[2] Douglas J. Futuyma, Science on Trial, Pantheon Books, New York, 1983, hal. 197
[3] Robert L. Carroll, Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, hal. 25.
[4] Question more, (Non)Mass movement: Atheist mega-churches take Western world by storm, diakses dari http://rt.com/news/atheist-mega-churches-west-518/, pada tanggal 19 Agustus 2014 pukul 18.25 WIB.
[5] Abul Hasan An Nadwi, Madzaa khasirul alam bin hithtatil muslimin, Al maktabah attaufiqiyyah, Cairo, hlm. 37.

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment