Akal, Hati, dan Wahyu; Kombinasi Pendeteksi

Sebagaimana akal bisa benar dalam menentukan mana yang salah, akal juga bisa salah dalam menentukan mana yang benar. Jadi jangan terlalu terburu-buru ‘tuk mengatakan apa yang dihasilkan akal. Benar dan salah hakekatnya merupakan masalah yang enteng, tapi pada prakteknya, ketika manusia menentukan mana yang benar dan mana yang salah terkadang timbul masalah. “Apakah ini benar?”, “Apakah yang ku lakukan ini salah?” Ragu… Pada posisi ini manusia harus menjalankan perangkat lain yang dimilikinya. Jika memilih adalah fungsi akal, maka memutuskan adalah fungsi hati.

Perangkat akal terbatas fungsinya hanya sampai kepada memilih, hati pun demikian. Maka kombinasi keduanya lebih kuat dalam mendeteksi mana yang benar dan mana yang salah. Apakah cukup sampai disini? Akal dan hati? Tentunya “Tidak!” ketika kita mengaku sebagai makhluk yang percaya Tuhan. Ada perangkat lain selain keduanya! Wahyu atau syariat, yang seharusnya ditempatkan pada urutan pertama sebelum akal dan hati, namun pada prakteknya wahyu/syariat pun tidak berjalan sendiri, agar tidak diterjemahkan secara leterlek (zahir). Karena itulah kita mengenal apa yang disebut dengan istinbath atau istidlal (mengeluarkan dalil) dari teks/matan wahyu tersebut, dan ini memerlukan kerja akal, buktinya? Orang yang tidak berakal mustahil dapat melakukan istinbath atau istidlal.

Intinya, akal, hati, dan wahyu tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebenarnya hubungan ketiganya harmonis, sampai manusia sendiri yang membentur-benturkannya. Muncul lah wacana “Wahyu VS akal”, dan ini semestinya tidak perlu muncul jika wahyu yang dimaksud terjamin keotentikannya, ini juga tak perlu muncul jika penggunaan akal sesuai porsinya, tidak berlebihan dalam lebih, dan tidak berlebihan dalam kurang.

Hal terakhir yang terpenting adalah, ketika akal mungkin salah dalam berfikir, ketika hati/nurani mungkin tertutup nafsu, maka, keduanya adalah jalan yang tidak aman untuk sampai kepada kebenaran. Jadi, wahyu/syariat lah satu-satunya jalan yang aman untuk sampai kepada kebenaran, karena Allah lah yang menciptakan. Karenanya kembali saya katakan bahwa kombinasi akal dan nurani tidak sempurna ketika wahyu tidak disertakan.

Ini lah penyikapan Islam terhadap akal, hati dan wahyu sebagai sumber kebenaran. Tidak rumit, maka ketahuilah yang rumit itu datangnya dari atheis dan yang sebangsanya. Mencari sesuatu yang tidak adalah adalah pekerjaan mereka, mereka tenggelam dalam kata, disibukan oleh tumpukan rumus-rumus dan buku filsafat. Bagi mereka dunia ini adalah materi, karenanya tidak aneh kalau budaya hedonis jadi jeda disela-sela kesibukan mereka merangkai rumus-rumus ‘tuk menegaskan kalau Tuhan tidak ada. Kalau saja waktu jeda mereka dipakai untuk merenung di alam bebas, mereka mungkin menemukan kebenaran hanya dengan sekedar menatap lekat keindahan alam yang memikat.

Hidup hanya di dunia, manusia mati kemudian menjadi tanah, tak ada hari berbangkit, beres!!! Begitu lah keyakinan mereka. Semua orang yang berakal tahu kalau semua ini hanyalah usaha pembenaran terhadap semua kesewenang-wenangan yang telah mereka lakukan, usaha pembenaran yang berkedok teori ilmiah dan yang sejenisnya. Sayang seribu sayang, naif bukan buatan, ada yang mengamini dari kelompok kita sendiri. Dibuatlah judul-judul seperti “Menggugat Keotentikan Quran”. “Jika dikatakan kepada mereka, jangan lah kalian berbuat kerusakan, mereka berkata ‘Justru kami adalah orang-orang yang berbuat perbaikan’, padahal mereka adalah pembuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari” (Al-Baqarah: 11-12). Siapa mereka? Golongan liberal di antara kita, Itu lah mereka!

Referensi:
- Al-Quran dan Sunnah
- Mashadirul ma’rifah IIT; DR. Abdurrahman Zaid Az-Zunaidiy
- Tayyarat fikriyyah; DR. Toha Hibisyi

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment